Selasa, 29 Maret 2011

Sebuah Renungan



Coba renungkan! Pernahkah dalam kehidupan ini kamu mengalami hal-hal yang sangat luar biasa, yang di luar dugaan, yang seakan dapat mengubah hidup kamu dalam sekejap atau yang lebih dalam lagi, menyadarkan kamu bahwa dalam setiap langkah kehidupan kamu selalu ada campur tangan Allah SWT. Jujur aku katakan, aku sering mengalami hal itu. Dulu kesadaran itu belum sepenuhnya muncul, namun ketika (Alhamdulillah) aku diberi ingatan yang bagus untuk melakukan flash back terhadap kejadian-kejadian tersebut, barulah perasaan itu muncul. Sadarkah kamu ketika mengalami hal yang tidak menyenangkan bahwa mungkin itu merupakan balasan atau peringatan Allah terhadap kita yang sudah melakukan “kesalahan”. Sengaja aku beri tanda kutip karena kata “kesalahan” punya tingkatan dari 0,1 -100%, tergantung darimana kita menilainya dan bagaimana metode penilaiannya. 


Once upon a time, aku pernah terpancing untuk menceritakan orang lain dengan nada yang sumbang, ber-ghibah, begitu tepatnya. Saat itu ada diskusi antara aku dan seorang kolega tentang kesulitan kami menyelesaikan beberapa urusan yang terkendala oleh Mr. X. Mendengar kolegaku menyebut nama Mr. X segera akupun menimpali dengan komentar-komentar senada yang berkesan negatif terhadap Mr.X. Akhirnya diskusi selesai begitu saja, tanpa kesimpulan. Selanjutnya karena waktu sudah menunjukkan pukul 15.00, aku memutuskan untuk meninggalkan kantor. Merasa tak sanggup membawa beberapa tas yang berisi buku, dokumen dan barang lainnya, aku panggil seorang mahasiswi untuk membantu membawakan sampai ke tempat parkir. Cukup jauh, dari lantai 3 ke lantai 1. Jadi aku membawa tas dokumen dan tas laptop sedangkan mahasiswi tadi juga membawa dua tas kecil lainnya (plus tas dia sendiri). Sesampainya di tempat parkir baru aku ingat bahwa ternyata aku memarkir mobil di halaman Pasca Sarjana yang letaknya lebih jauh lagi dari Fakultas Pertanian. Tak jadi masalah. Di depan kami terbentang selokan kecil, tidak dalam dan kering. Aku sudah sering melangkahi selokan itu sehingga ketika mahasiswi tersebut mengajak memutar jalan yang lebih aman, aku menolak. Beda dengan kebiasaan sebelumnya, kali ini aku tidak melangkahi selokan tersebut namun menjejakkan kaki ke dalam selokan untuk kemudian melangkah naik. Apa yang terjadi selanjutnya? Ketika kaki kananku menyentuh dasar selokan, seketika itu jg seluruh tubuhku ambruk ke dalam selokan dan barang-barang bawaanku menimpaku. Persis peribahasa “Sudah jatuh tertimpa tangga”. Sesaat aku tak bisa menggerakkan tubuhku sehingga mahasiswi tadi kebingungan membantuku berdiri. Perlu waktu untuk memulihkan kondisiku sampai akhirnya aku dituntun masuk ke mobil. Singkat cerita aku tersadar dan memohon ampunan Allah atas ghibah yang baru kulakukan tadi siang. Setiba di rumah aku segera menunaikan sholat dan kembali mohon ampun kepada Allah. Sungguh di luar dugaanku bahwa ternyata kakiku tidak sampai mengalami bengkak dan sakit hanya kurasakan selama beberapa jam saja sehingga keesokan harinya aku sudah bisa beraktivitas seperti biasanya. Selama ini sudah tiga kali aku mengalami hal yang sama, pertama ketika masih kuliah semester 6 di UGM dan yang kedua ketika sudah menjadi dosen, kira-kira dua tahun setelah kembali dari studi di Jerman. Akibat terkilir di tempat kerja dan harus istirahat beberapa hari karena kaki yang membengkak. I do remember, bahwa saat itu aku tidak introspeksi diri dan mungkin menyalahkan sepatu yang tidak beres atau lantai yang licin.....




Kisah berikut ini baru saja terjadi, tepat tanggal 16 Maret yang lalu. Aku diundang mengikuti evaluasi kelayakan dan seminar hasil penelitian hibah kompetensi di Jakarta. Kebetulan kakakku yang dosen IPB juga mendapat undangan yang sama. Kami adalah dua orang di antara 225 dosen seluruh Indonesia yang diundang. Biasanya untuk seminar hibah penelitian lainnya dibedakan lokasi wilayah Barat dan Timur, namun untuk seminar hibah kompetensi dipusatkan di Jakarta. Beberapa hari sebelumnya kakakku sudah menghubungiku dan kami sepakat untuk nantinya sekamar di Jakarta karena kondisi kakakku yang sangat tidak memungkinkan......saat ini karena suatu musibah yang ia alami mengharuskan ia menggunakan kruk di tangan kanan dan kirinya. Tentunya ia akan merasa lebih nyaman jika aku yang notabene adiknya, yang menemaninya mengambilkan makanan dan keluar masuk toilet dan lift. Ketika aku tiba lebih dahulu di hotel Sheraton Media, lokasi seminar, karena aku menggunakan pesawat paling pagi dari Makasar, ia masih dalam perjalanan dari Bogor ke Jakarta. Sungguh terkejut aku membaca buku panduan pelaksanaan seminar sesaat setelah selesai registrasi. Sulit dipercaya bahwa aku dan kakakku bisa berada dalam satu kelompok pembahasan seminar padahal bidang kami berbeda jauh dan belum pernah kami berada dalam satu event yang sama. Ya, aku di bidang teknologi pangan, ia di bidang kedokteran hewan. Total kelompok ada 11 dengan lokasi ruangan yang berbeda. Allah telah memberi kemudahan bagi kami. Berada dalam satu kelompok tentu membuat aku lebih leluasa membantu kakak menyiapkan presentasinya dan membawakan dokumen-dokumennya yang menjadi bukti pelaksanaan kegiatan. 




Baru saja kemarin (24/3) aku mengalami suatu hal lagi yang menurutku di luar kemampuanku sebagai manusia. Aku bermaksud meninggalkan kampus pukul 14.00 ketika kudapati mobilku tak dapat keluar dari tempat parkir di Fakultas Pertanian. Sebuah mobil Peugeot berwarna orange tepat berada di belakang mobilku. Ok, tak masalah, toh bisa kudorong. Meskipun agak riskan juga karena mobil tersebut letaknya tak jauh dari pembelokan, sehingga jika aku berhasil mendorongnya mundur (maju jelas tak mungkin karena di depannya ada mobil lain), aku harus mendorongnya maju dan mengembalikannya ke posisinya semula. Tak apalah, yang penting aku harus berusaha. Tapi ternyata mobil tersebut tak juga bergerak, wah....apa rem tangannya lupa dilepas ya? Kucoba sekali lagi, tetap tak bisa. Aku merasa benar-benar helpless. Tak mungkinlah aku berkeliling di sana dan menanyai satu persatu orang yang ada mungkin mereka tahu siapa pemilik mobil tersebut. Hampir setengah jam berlalu, sesekali aku masuk ke mobilku, sesekali berdiri di belakang mobilku sambil mengamati keadaan. Tak ada satupun yang bisa kulakukan untuk bisa mengeluarkan mobil dari tempat parkir. Sampai akhirnya ketika aku berdiri di belakang mobilku, tepatnya di samping mobil orange itu, kulihat dua orang mahasiswa mengendarai motor dan akan membelok ke tempat mobil kami diparkir. Pandangan mereka tertuju ke mobil Peugeot orange yang berada di belakang mobilku dan mengucapkan kalimat yang dapat kudengar dari posisiku berdiri, “Eh, sudah datang ibu F!” Aku tertegun. Ibu F......ibu F.....ibu F.....baru aku tersadar, aku tahu pemilik mobil itu, ya ibu F dari salah satu fakultas Agrokompleks. Aku kenal beliau tapi aku tak punya nomor handponenya. Dengan berbekal keyakinan kuat bahwa inilah petunjuk dari Allah, aku mencoba menelpon salah seorang dosen yang kukenal yang satu fakultas dengan beliau. Kutanyakan di telpon, “Apa benar mobilnya ibu F adalah Peugeot orange?” Ternyata benar, sehingga kukatakan selanjutnya, ”Minta tolong disampaikan ke ibu F, saya tidak berhasil memindahkan mobilnya yang berada tepat di belakang mobil saya, mungkin rem tangannya masih terpasang.” Alhamdulillah, semua berjalan lancar, tak lama kemudian, ibu F datang dan memindahkan mobilnya. Oh, ternyata ada batu kecil yang diganjalkan di ban belakangnya yang tidak kulihat sehingga aku tak sanggup mendorongnya tadi. Beliau meminta maaf, meskipun jelas ia tak salah, hanya aku saja yang tak bisa memindahkan mobilnya.Tapi aku kemudian berpikir seandainya tadi aku bisa memindahkannya, apa aku mampu mendorongnya lagi agar tak menghalangi belokan jalan??? Setelah mengucapkan terimakasih dan mengeluarkan mobilku, kutinggalkan tempat parkir tersebut dengan perasaan lega. Tak ada yang kebetulan bagi Allah karena semua sudah diaturnya dengan sempurna. (Tamalanrea, 25 Maret 2011)

Kamis, 10 Maret 2011

Makanan Tradisional Sulawesi Berbasis Ikan (Pengantar & Prakata)


KATA PENGANTAR

Indonesia adalah negara yang mempunyai wilayah laut yang lebih luas dibanding wilayah darat.  Dengan kondisi geografis seperti ini menjadikan Indonesia adalah negara dengan sumber daya laut melimpah.  Salah satu hasil laut yang memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi adalah ikan.   Ikan adalah makanan yang hampir tersedia setiap saat dan menjadi sumber protein utama bagi penduduk yang berada di sebagian besar wilayah di negara ini.  Tidak bisa diherankan, kebiasaan masyarakat khususnya di Sulawesi Selatan yang mengkonsumsi ikan ini melahirkan berbagai variasi pengolahan dan penyajian yang khas di wilayah ini.  Alhamdulillah, kekayaan yang luar biasa ini, telah ditulis dan dirangkai dalam buku yang saat ini ada di tangan pembaca.
Memang ada satu pertanyaan yang seringkali timbul dalam pikiran saya, mengapa ikan yang merupakan jenis makanan yang sangat sehat ini belum dikonsumsi secara optimal di negara ini.  Mengapa saya katakan demikian, karena kalau dilihat rata-rata konsumsi, jumlah ikan yang dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia ini masih kalah dibandingkan dengan negara-negara lain seperti Jepang, Masyarakat Eropah, bahkan USA.  Di beberapa propinsi di Sulawesi dan Maluku, seperti Propinsi Sulawesi Selatan, konsumsinya sudah menyamai negara-negara ini, namun ini tidak terlihat di wilayah Pulau Jawa.  Seharusnya Perilaku makan ikan setiap hari, yang sering dipopulerkan oleh pemerintah, harus menjadi wacana yang harus terus dipopulerkan di masyarakat kita.
Perlu juga disadari, bahwa kebiasaan masyarakat dalam pengolahan ikan secara tradisional harus terus diperbaiki.  Terkait dengan hasil survey yang dilakukan di masyarakat, memperlihatkan bahwa penyakit hipertensi telah menjadi penyakit yang paling banyak diderita oleh masyarakat kita.  Konsumsi ikan seharusnya menyehatkan, namun pengolahan ikan yang tidak tepat (kelebihan garam), dapat menjadi pemicu terjadinya penyakit yang mematikan ini.  Itulah sebabnya masyarakat harus dididik tentang pengolahan dan penyajian makanan dengan bahan dasar ikan yang benar. 
Saya sangat bersyukur, informasi pengolahan dan penyajian yang tepat ini telah digarap dengan baik dan bisa dibaca di buku ini.  Pemaparan yang sangat komprehensif tentang pengelolaan ikan di wilayah ini diberikan dengan begitu menarik.  Saya sangat yakin buku ini sangat bermanfaat dan tidak saja digunakan oleh para mahasiswa yang sedang mempelajari kekayaan teknologi pengelohan ikan di wilayah ini namun juga oleh masyarakat umum yang ingin mempelajari cara pengolahan dan penyajian yang tepat.   
Akhirnya, saya ingin mengajak kepada seluruh masyarakat untuk mencintai konsumsi ikan dan senantiasa memilih bahan makanan ikan sebagai sumber protein yang terbaik bagi tubuh kita.  Hasil penelitian yang telah dipublikasi memperlihatkan betapa konsumsi ikan merupakan makanan hewani yang sangat sehat bagi tubuh kita.   Dengan tersedianya buku ini, saya yakin masyarakat dapat lebih mudah mengolah dan menyiapkan aneka makanan ikan setiap hari di tingkat rumah tangga.  Tidak salah semboyan “Makan Ikan Setiap Hari” harus terus kita sebarkan dalam masyarakat kita. 

Makassar, Juni 2010
Prof. Dr. Veni Hadju, PhD
Guru Besar Ilmu Gizi, FKM Unhas, Makassar




PRAKATA
Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena atas karuniaNya jualah, akhirnya penulis dapat menyelesaikan buku berjudul Makanan Tradisional Sulawesi Berbasis Ikan.
            Buku ini berisikan aneka jenis makanan tradisional berbasis ikan dari enam propinsi di pulau Sulawesi yaitu Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Gorontalo, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Selatan. Kajian terhadap makanan tradisional diuraikan dalam bentuk resep, dokumentasi visual dan informasi kandungan gizi setiap jenis makanan tradisional tersebut. Pengelompokan jenis makanan tradisional berdasarkan perbedaan teknik pengolahan yaitu pengeringan, pengasapan, pemindangan / perebusan, fermentasi, pemanggangan / pembakaran, penggorengan / penumisan, pengukusan dan pengasaman.
Penulis menyampaikan terima kasih kepada Prof. dr. Veny Hadju, M.Sc, PhD yang telah memberi pengantar untuk buku ini. Selain itu disampaikan juga terima kasih kepada Nur Amaliah, STP; Indrastuti, STP; Nur Asia, STP; Nur Pratiwi, STP, Nur Jihad Syahra, STP dan Ir. Jumriah Langkong, MP yang telah membantu proses pembuatan produk dan dokumentasi serta proses pengumpulan data. Penghargaan dan terima kasih juga penulis sampaikan kepada Ibu Dra. Hj. Sadrah Yunus yang telah meluangkan waktu untuk melakukan proses pengolahan produk dan membantu desain visualisasi untuk keperluan dokumentasi, Sdri Siswanti Lusiana dan Sdri Uswatun Hasanah yang telah membantu pengolahan data nilai gizi dengan program Wfood, dan juga kepada semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu-persatu. Buku ini diterbitkan dengan bantuan pembiayaan dari DIPA Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DIKTI) melalui proyek penelitian Hibah Kompetensi Batch II dengan nomor kontrak No.241/SP2H/DP2M/V/2009 tanggal 30 Mei 2009
Penulis menyadari bahwa tentunya masih ada kekurangan dalam buku ini, oleh karena itu sangat diharapkan adanya masukan dari pembaca untuk perbaikan di masa yang akan datang.
Semoga buku ini dapat bermanfaat bagi pembaca.


Makassar, Mei 2010



Penulis

Ketika Rasa Syukur Tak Pernah Habis Terucap (Pengantar & Prakata)


PENGANTAR
Manusia diciptakan Allah SWT sebagai musafir, dan untuk menjadi musafir yang unggul  adalah jika bisa merenungi perjalanan hidup pahit dan manis secara bermakna.  Terlebih lagi,  jika bisa tertuang sebagai tulisan untuk menjadi makna yang berpesan, bukan sekedar tertinggal sebagai makna yang bisu dan bermisteri..

Meta Mahendradatta  telah melakukannya  melalui buku    “Ketika  Rasa Syukur tak pernah habis berucap...”  Pengalaman sederhana  seorang anak perempuan  ketika  kewalahan berbenturan dengan nilai sosial budaya yang bias jender, bisa menginspirasi kita  untuk lebih bijaksana ketika membaca persoalan hidup yang kompleks. Pengalaman seorang perempuan dewasa  eksis sebagai  akademisi yang profesional  dan  telah menjelajahi  berbagai  belahan dunia, namun tetaplah seorang seorang perempuan dengan segala keterbatasan.  Ini sangat bermakna bagi  perempuan berkarir  yang seringkali harus kalang kabut untuk selalu ingin tampil sebagai  wonder women, karena takut  ternilai tak mampu  dalam dunia domestik dan publiknya. 
                     (Dwia Aries Tina NK, Sosiolog)

PRAKATA
            Ketika berkas pertama sebagai bukti fisik untuk pengusulan guru besar telah kuserahkan kepada Pak Beri di kantor Dekanat Fakultas Pertanian UNHAS, Makassar, September 2008, terbersit rasa syukur yang dalam karena aku telah dapat melewati tahapan ini. Meskipun jalan menuju tujuan akhir masih jauh, namun proses yang telah aku jalani dan membawaku meniti langkah sampai pada jalan ini patut aku syukuri. Saat itu kuputuskan untuk mengungkapkan rasa syukur dalam sebuah buku kecil yang mudah-mudahan dapat memberikan inspirasi kepada orang lain untuk tak henti-hentinya mensyukuri nikmat Allah.
            Tidak akan habis kata terucap untuk menyatakan rasa syukur terhadap kenikmatan yang kita peroleh berupa kehidupan yang layak, kesehatan, kedamaian, kebahagiaan, kesuksesan, dari hal-hal besar hingga hal-hal kecil yang kadang terlewatkan bagi kita untuk meyakini bahwa Allah adalah maha pemberi tanpa batas. Detik ini pun aku masih belum percaya bahwa aku akan mencapai tingkat tertinggi dalam dunia akademik dan bahwa aku dapat menyelesaikan buku ini pada waktu yang tepat.
Karya ini memuat sebagian kecil perjalanan hidupku yang senantiasa kujalani dengan gembira dan semakin mendekatkan aku kepadaNya. Kisah-kisah singkat kutulis secara kronologis berdasarkan tahun kejadian .
……………………………………………………………………............................................penulis (April 2009)

Jagung dan Diversifikasi Produk Olahannya (Pengantar dan Prakata)


KATA PENGANTAR
            Syukur Alhamdulillah kita panjatkan ke hadirat Allah SWT karena diberi kesehatan dan kemampuan untuk terus berkarya. Saya memberikan apresiasi kepada penulis atas kerja kerasnya secara konsisten melakukan penelitian dengan berbasis pada jagung yang tertuang dalam buku berjudul ”Jagung dan Diversifikasi Produk Olahannya”.
            Kebijakan iptek pangan pokok bersama dengan kebijakan makro lainnya pada masa lalu telah menyebabkan terjadinya perubahan dan pergeseran kebiasaan pangan (food habit) sebagian besar penduduk Indonesia; yang cenderung tergantung pada beras. Kondisi ketergantungan pada beras ini telah menyebabkan memudarnya atau bahkan hilangnya kondisi pluralisme dalam food habit dan pluralisme dalam diversifikasi pangan pokok. Diversifikasi pangan merupakan elemen penting dalam pengembangan ketahanan pangan. Program diversifikasi pangan akan dapat berjalan secara berkelanjutan melalui dukungan berbagai pihak, baik masyarakat umum, akademisi, pengusaha, maupun instansi-instansi pemerintah dan swasta. Keberhasilan program ini secara langsung dapat memperbaiki ketahanan pangan daerah melalui pemanfaatan komoditi unggulan lokal. Salah satu komoditi yang cukup berperan sebagai komoditi unggulan yaitu jagung.
            Telah banyak dilakukan penelitian tentang jagung ditinjau dari berbagai aspek. Produk-produk baru sebagai hasil dari penelitian berbasis jagung, baik sebagai produk akhir maupun produk antara, telah pula dipublikasikan. Namun yang terutama sesungguhnya adalah bagaimana hasil-hasil penelitian tersebut dapat diaplikasikan oleh masyarakat luas sehingga tujuan dari program diversifikasi pangan, dalam hal ini diversifikasi pangan berbasis jagung, dapat tercapai.
            Akhir kata semoga buku ini dapat bermanfaat bagi semua khalayak dan instansi yang terkait.

Makassar, Januari 2008
Prof. Dr. H. Abd. Rauf Patong
Ketua Lembaga Penelitian Universitas Hasanuddin
______________________



PRAKATA
            Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT karena atas karuniaNya kami dapat menyelesaikan buku berjudul ” Jagung dan Diversifikasi Produk Olahan”. Dalam buku ini diulas mengenai jagung dan keistimewaannya, berbagai teknik pengolahan jagung, makanan-makanan khas berbahan baku jagung, serta beberapa produk hasil olahan jagung yang merupakan hasil penelitian yang mendukung program diversifikasi pangan.
Buku ini ditujukan untuk masyarakat yang ingin mengetahui tentang produk-produk olahan jagung secara tradisional maupun modern yang merupakan hasil penelitian unggulan di laboratorium. Selain itu diharapkan pula bahwa buku ini dapat memberi masukan yang bermanfaat bagi masyarakat yang berminat untuk mengembangkan produk-produk tersebut.
Kami menyampaikan terima kasih kepada DP2M-Ditjen-DIKTI-Depdiknas yang telah membiayai penerbitan buku ini melalui proyek Hibah Pusat Kajian Makanan Tradisional (PKMT) Tahun Anggaran 2007 Nomor: 096.D/PKMT/DP2M/IV/2007, kepada Prof. Dr. H. Abdul Rauf Patong yang telah menuliskan kata pengantar untuk buku ini dan Dr. Ir.  Amran Laga, MS yang telah mengedit buku ini.  Demikian juga kepada, Prof. Dr. Ir. Herry Sonjaya, DEA selaku Kepala Pusat Kegiatan Penelitian (PKP) Unhas dan Prof. Dr. dr. Nurpuji Astuti D., MPH selaku Kepala Pusat Penelitian Pangan, Gizi dan Kesehatan (PPGK) Unhas. Selain itu terima kasih disampaikan pula kepada Nurasia Sanusi, S.TP, Adriyani Yaman, S.TP, Nur Amaliah, S.TP, ibu Fatmawati, SKM, ibu Waode Mariyati serta para mahasiswa yang terlibat sebagai tim peneliti jagung dari Program Studi THP Unhas yang telah membantu pengadaan pustaka, mengolah dan mendokumentasikan beberapa resep makanan. Terimakasih disampaikan pula kepada semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu.
Kami berharap semoga buku ini dapat membuka wawasan dan bermanfaat bagi pembaca. Saran dan kritik dari pembaca sangat kami harapkan untuk perbaikan buku ini di masa mendatang.


Makassar, Juni 2008
 Tim Penulis

Pangan Aman dan Sehat; prasyarat kebutuhan mutlak sehari-hari (Prakata)


PRAKATA
Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena atas karuniaNya jualah, akhirnya penulis dapat menyelesaikan buku berjudul Pangan Aman dan Sehat; prasyarat kebutuhan mutlak sehari-hari.
            Manusia hidup memerlukan pangan. Fakta tersebut tidak dapat dipungkiri karena pada kenyataannya telah terjadi perkembangan yang sangat pesat dalam bidang teknologi pangan untuk memperoleh pangan yang sehat dan aman untuk dikonsumsi. Berbagai upaya untuk memperoleh pangan yang sehat dan aman telah disosialisasikan kepada masyarakat melalui berbagai kegiatan baik di tingkat lokal maupun nasional. Hanya saja pada kenyataannya hasil sosialisasi tersebut belum diterapkan secara maksimal oleh masyarakat yang disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan dan penghasilan sebagian masyarakat. Hal tersebut menjadi permasalahan pokok yang harus dipecahkan agar slogan “Menuju Indonesia Sehat 2010” dapat menjadi kenyataan.
Dalam buku ini penulis membahas hal-hal yang berkaitan dengan pangan yang aman dan sehat, cara pemilihan, penanganan bahan pangan, pengolahan dan penyajian makanan yang tepat untuk memperkecil risiko susut gizi. Buku ini dimaksudkan menjadi bahan bacaan mahasiswa Teknologi Hasil Pertanian, Sosial Ekonomi Pertanian, Kesehatan Masyarakat, Akademi Gizi, demikian juga masyakarat umum yang mempunyai minat mengetahui lebih banyak tentang pangan dan gizi.
Penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Prof. Dr. dr. Abd. Razak Thaha, M.Sc. yang telah menelaah dan memberi pengantar untuk buku ini, Prof. Dr. Ir. Abu Bakar Tawali yang telah menyunting buku ini, Februadi Bastian, STP yang telah membantu pekerjaan lay-out dan desain sampul serta semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu-persatu. Buku ini diterbitkan dengan bantuan pembiayaan oleh DIPA Tahun 2006, Nomor: 0004.3/023-1.0/-/2006: Beasiswa Unggulan untuk Peneliti, Pencipta, Penulis, Seniman, Olahragawan dan Tokoh, Sekretariat Jendral, Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri, Departemen Pendidikan Nasional. Terima kasih disampaikan kepada pihak pemberi beasiswa.
Penulis menyadari bahwa tentunya masih ada kekurangan dalam buku ini, oleh karena itu sangat diharapkan adanya masukan dan kritikan dari pembaca untuk perbaikan di masa yang akan datang.
Semoga buku ini dapat bermanfaat bagi pembaca.


Makassar, April 2007
Penulis


Jumat, 04 Maret 2011

Berita8.com : Suami-Istri Jadi Guru Besar

Rektor Universitas Hasanuddin Prof Dr dr Idrus A Paturusi mengukuhkan guru besar kepada sepasang suami-istri dari Fakultas Pertanian di Makassar, Senin (27/09/2010).

Abu Bakar Tawali mendapat gelar Guru Besar bidang Ilmu Analisis Hasil Pertanian/Teknologi Pangan dan Gizi, sementara istrinya Meta Mahendradatta Guru Besar bidang Ilmu Pengawasan Mutu Pangan.

Meta yang menyampaikan orasi "pencegahan pembentukan histamin dalam pengawasan, pengendalian mutu serta keamanan bahan pangan dan produk olahannya" merupakan guru besar ke-239 Universitas Hasanuddin.

Abu Bakar merupakan guru besar ke-240 dengan orasi berjudul "pengembangan potensi pangan lokal untuk mendukung percepatan penganekaragaman pangan".

Meta menamatkan pendidikan S-1 di UGM tahun 1990 dan S-3 di Jerman pada 1997.

Dia sudah menghasilkan satu karya yang dipatenkan, yakni "Proses pembuatan jagung sosoh pratanak" dengan inventor Abu Bakar Tawali, Amran Laga.

Dia sudah menghasilkan empat buku, 13 makalah internasional, tujuh nasional dan 14 lokal/regional (terpilih). Ibu empat anak ini sudah menghasilkan 18 karya penelitian.

Abu Bakar Tawali menamatkan pendidikan S-1 di IPB pada 1986, kemudian doktor di Jerman tahun 1996.

Berbagai penelitian telah dihasilkan, begitu pun makalah berskala lokal, regional, nasional, dan internasional.

Abu Bakar termasuk penerima penghargaan penulisan artikel ilmiah Dikti (1998), penerima hibah penelitian Indonesia Toray Science Foundation V (1999), penerima Bogasari Nugraha (2001) dan peneliti terbaik riset unggulan strategis nasional Bidang Pertanian dan Pangan (2006).

Kemudian dosen berprestasi I Unhas (2008), finalis dosen berprestasi nasional (2008), Satyalencana Karya Satya 10 Tahun (2008), dan terpilih satu dari 102 Inovasi nasional terbaik (2010). (Ans/Ant)


Sumber : http://www.berita8.com/news.php?tgl=2010-09-28&cat=5&id=29808
Foto     : Koleksi Pribadi