Kamis, 20 Oktober 2011

FROM VILLAGE TO VILLAGE (an extraordinary travel)

Alhamdulillah, akhirnya bisa juga kuselesaikan my special diary ini, sebenarnya sudah out of date tapi karena sejak awal sudah kuniatkan yaa haruslah kurampungkan tulisan tentang liburan Lebaran tahun ini. Viel Spass beim Lesen!!

Lebaran Tanpa Ketupat
     
     Lebaran kali ini mempunyai kesan yang luar biasa bagi keluargaku, terutama bagiku. Pertama, Lebaran tanpa ketupat. Bagaimana tidak, aku bisa melupakan tradisi membuat ketupat untuk teman makan kari ayam. Biasanya ibu mertuakulah yang membuatkan aku selongsong ketupat dari daun pandan yang tumbuh di halaman belakang rumahku, atau membelikanku selongsong ketupat di pasar. Kali ini beliau absen melakukan hal tersebut karena sedang menjalankan ibadah umroh Ramadhan di tanah suci. Dan herannya, aku tidak mengingatnya sama sekali. Baru setelah sehari menjelang Hari Raya Idul Fitri, aku kebingungan. Karena aku tak sempat ke pasar mencari selongsong ketupat, apalagi kalau harus membuatnya sendiri, terus terang aku tak sanggup, maka biarlah tak ada ketupat kali ini, begitu pikirku. (Aku ingat, sewaktu kecil dulu beberapa kali diajari oleh ayahku membuat selongsong ketupat, tapi tak juga bisa, akhirnya aku menyerah dan tak mau mencobanya lagi sampai sekarang). Sehari menjelang Lebaran, aku disibukkan dengan membereskan rumah dan membuat kue kering coklat dan brownies, keduanya sudah menjadi tradisiku sejak berkeluarga. Kue-kue kering lainnya aku pesan dari kerabatku yang pandai membuat kue. Cerita tentang Lebaran yang absen dari ketupat untungnya tidak berlanjut. Alhamdulillah kami mendapat kiriman buras berukuran tabung sebesar lengan, sebanyak 7 buah, dari ibu tukang cuci di rumahku. Kesan luar biasa lainnya silakan disimak ya dari ceritaku berikut ini.

Mudik Penuh Kesan

     Hari pertama dan kedua Lebaran kami lewatkan di rumah sekaligus persiapan untuk pulang ke desa suami di Enrekang pada hari berikutnya. Kebetulan suamiku mendapat undangan untuk memberikan ceramah tentang pendidikan berkualitas pada acara halal bihalal yang dirangkaikan dengan Seminar Pendidikan di desa Buttubatu. Meskipun demikian, acara inti di Enrekang ini sengaja kami plotkan pada hari terakhir kunjungan ke Enrekang. Perjalanan ke Enrekang dimulai pada hari Rabu tanggal 1 September pukul 08.00 pagi. Sayangnya anak pertama kami, Fadhil, tidak bisa ikut karena ada kegiatan bersama remaja mesjid Ikhtiar di Barru pada hari Jumat sampai Minggu. Tidak apa-apalah, mudah-mudahan ia memperoleh pengalaman yang menarik juga di sana. Biasanya jarak Makassar – Enrekang dapat ditempuh paling singkat 6 jam, namun kami tak mau terburu-buru dan menjalaninya dengan santai. Beberapa kali kami singgah di kota-kota yang kami lalui, singgah makan siang, sholat atau sekedar istirahat mencari angin. Pukul 17.00 kami tiba di kota Enrekang dan menginap di rumah salah satu keluarga di sana, sebuah rumah panggung, seperti sebagian besar rumah di situ. Seperti biasanya, anak-anak sangat terkesan dengan rumah panggung, bahkan aku sudah lama menyimpan angan-angan memiliki rumah panggung yang unik dan artistic di luar kota Makassar.
Esok paginya pukul 8.00 kami melanjutkan perjalanan ke desa Tungka, salah satu desa tempat tinggal suamiku di masa kecil dulu, selain desa Galung, tetangganya. Kami tidak menginap di sana, hanya bersilaturahmi dari satu rumah keluarga ke rumah keluarga yang lain. Di situlah anak-anak mulai berbisik-bisik,”Kenapa kita kerjanya makan terus….” Ketika singgah di rumah nenek Malla, nenek dari suamiku, mulailah beliau mengangkut barang-barang di rumahnya masuk ke mobil kami, ada kacang tanah mentah, langsat, kue-kue Lebaran….. sementara barang-barang di mobil kami yang sedianya untuk oleh-oleh belum banyak berkurang karena masih banyak tempat/rumah yang akan kami singgahi.
     Perjalanan selanjutnya adalah menuju ke desa Pekalobean di kecamatan Cakke lokasi tempat tinggal Ipa, pengasuh anak kami. Sungguh menakjubkan karena berada di lereng gunung dan suasana pedesaan benar-benar terasa dengan pohon-pohon, jalanan setapak, sungai-sungai, bahkan perkebunan sayuran berada di mana-mana, mulai dari bawang merah, kol, lombok, tomat, wortel. Karena jalanan yang menanjak terus membuat mesin mobil kami panas dan ban mobil kiri belakang melemah alias agak kempes. Ternyata salah satu penyebabnya adalah tumpukan koper yang kami letakkan di bagian belakang kiri. Kami sempat berjalan kaki menuju desa tersebut kira-kira 500m sementara mobil kami beristirahat dulu. Setelah setengah jam berlalu suamiku berhasil membawa mobil naik ke desa.


Ketika kita mulai kehilangan nilai-nilai kebersamaan, gotong-royong dan tenggang rasa, maka di desa nilai-nilai tersebut dapat kita rasakan di mana-mana. Sebuah contoh kecil..... mobil kami terparkir di halaman sebuah rumah sementara rumah Ipa masih masuk ke dalam melalui jalan setapak. Memang kami tidak menurunkan semua barang bawaan kami, hanya yang diperlukan saja karena toh kalau memerlukan sesuatu kami bisa saja menuju ke mobil dan mengambilnya. Setelah kesekian kali ke mobil mengambil barang yang diperlukan, suamiku secara tak sengaja meninggalkan kunci di dalam mobil yang terkunci dari luar. Alhasil berbagai usaha pun dilakukan oleh suamiku dan anakku yang kedua, Raihan. Yang mengagumkan dan mengejutkan adalah ketika warga desa berbondong-bondong dari segala penjuru mendatangi mobil kami dan berusaha membantu mengeluarkan kunci dari dalam mobil. Anakku menganggapnya luar biasa karena belum pernah mengalami hal tersebut.





Naik-naik ke Puncak Gunung......
   
     Rumah Ipa seperti halnya rumah-rumah di pedesaan, berupa rumah panggung. Model dan ukurannya bermacam-macam. Kebetulan rumah Ipa termasuk rumah tua yang sederhana, yang bergoyang-goyang ketika angin kencang berhembus. Sungguh mengasyikkan. Hebatnya, anak-anakku sangat excited dengan kondisi tersebut. Tak ada waktu untuk berdiam diri karena sore itu juga kami beramai-ramai hiking ke gunung. Jalanan berbatu-batu menanjak ke lereng gunung juga dilalui mobil bak terbuka yang mengangkut sayuran pasca panen. Di desa yang berbatu-batu tersebut ternyata sangat subur ditanami sayuran. Penduduk mendapatkan mata air di pegunungan yang kemudian dibuatlah saluran air untuk mengairi kebun-kebun sayuran. Sepanjang mata memandang terhampar kebun bawang, lombok, wortel, kol. Bahkan kami sempat mendapatkan seikat wortel yang dicabut langsung dari tanah.


     Setiba di atas gunung (hehehe....ini baru gunung yang letaknya di bawah, kami tidak naik ke puncak yang paling tinggi), karena sudah pukul 17.00 kami memutuskan untuk turun kembali. Ternyata kami tidak kembali melalui jalan semula, namun melalui jalan pintas yang hanya berupa jalan setapak di tepi tebing terjal. Nun jauh di bawah terhampar kebun sayur. Seandainya kami terpeleset jatuh ke bawah, bisa jadi kami terguling-guling di kebun sayur. Seandainya ada kebun bayam tentu kami bisa langsung makan bayam dan kuat bak Popeye jadi tak perlu kuatir terpeleset. Pengalaman yang sangat seru buatku dan terutama buat anak-anak karena mereka sangat menikmati perjalanan sore itu.

Rumah Penuh Bawang

     Fika, putri bungsuku tidak suka bawang, baik bawang merah maupun bawang putih. Apalagi kalau ayahnya baru saja mengkonsumsi bawang tak akan mau ia berdekatan dengan ayahnya. Biasanya saat flu atau sakit tenggorokan suamiku mengunyah bawang mentah yang memang berefek luar biasa bagi kesembuhannya. Saat di desa pun sesungguhnya suamiku sedang flu sehingga hari itu kembali ia mengunyah bawang merah mentah. Alhasil Fika selalu berteriak, “Bapak pindaaaaah, bau bawaang!” Ya sudah, sang ayah mengalah. Tapi sebentar-sebentar ia masih meminta ayahnya menjauh meskipun sebenarnya posisinya sudah jauh. Aku berkata pelan kepada Fika,”Fika, di mana-mana pasti bau bawang, lihat tuh di bawah rumah!” Di bawah rumah panggung tersebut tergantung berderet-deret bawang merah yang akan dijadikan bibit untuk ditanam. Langsung saja Fika semakin kencang berteriak,” Kasih pindah semua bawaaang!!” Waduuh, kalau di rumah orang seperti ini mana bisa seenaknya… (Tapi Fika akan bertingkah seperti itu kalau kelelahan dan ngantuk. Untungnya bawang hanya jadi masalah saat ia mengantuk. Esoknya melihat bawang ia sudah tak rewel lagi.)
Sebelum tidur pun ia mulai rewel. Anak itu memang tak tahan panas. Di kamarnya di Makassar, meskipun sudah dipasangi AC tetap saja ia minta dikipas-kipas, sehingga aku pernah berkomentar,”Fika cocoknya tinggal di luar negeri yang dingin.” Dan oleh kakak-kakaknya disambung lagi,”Dia paling cocok tinggal di kutub Utara sama orang-orang Eskimo dan pinguin.” Nah, di desa pun ia rewel dan berkata,”Kenapa di sini tidak ada AC nya, panaas, panaaas.” Akhirnya ia tidur tanpa mengenakan baju, hanya celana panjang tipis. Menjelang malam baru terasa dinginnya udara pegunungan, sampai Fika ngompol dan membasahi kasur busa, seprei dan selimut yang dipakainya.



Tak jadi berenang di sungai, di bak mandi pun bolehlah…
     Sejak dari Makassar, anak-anak sangat excited membayangkan akan berenang di sungai di desa seperti saat Idul Adha tahun lalu. Oleh karena itu pakaian renang sudah mereka siapkan jauh-jauh hari sebelum berangkat. Sampai hari kedua di desa, meskipun kami pindah dari desa ke desa, belum juga terealisasi berenang di sungai. Si kecil sudah mulai cemberut setiap melihat baju renangnya masih terlipat di koper. Pada hari ke tiga dari desa Pekalobean kami menuju ke Villa Bambapuang yang letaknya di seberang pegunungan Bambapuang. Pemandangan yang sangat menarik adalah pegunungan yang tampak jelas di depan mata dan berkabut ketika subuh sampai pagi. Seakan-akan, kalau kita menggunakan kacamata 3 dimensi, gunung-gunung tersebut bisa dijangkau dengan tangan. Namun yang paling berkesan bagi anak-anak terutama si bungsu adalah adanya bathtub (bak mandi) yang besar di kamar mandi villa. Segeralah ia minta izin untuk berenang (tepatnya berendam) di dalam bathtub di dalam kamar dengan mengenakan baju renangnya. Alhamdulillah, akhirnya baju renangnya dimanfaatkan juga.





Berbagi di Seminar Pendidikan di Desa Buttubatu

     Semalam di Villa Bambapuang sangat menyenangkan. Terutama ruangan di dalam kamar yang sangat luas dengan beberapa tempat tidur yang menurutku bisa menampung sampai sepuluh orang. Keesokan harinya kami harus meninggalkan villa pagi-pagi bahkan tak sempat sarapan. Ya, karena hidangan makan pagi belum juga siap akhirnya kami minta dimasukkan saja ke dalam Tupperware yang kami bawa dari rumah. Karena bekas pakai, maka kami cuci terlebih dahulu wadah-wadah tadi dengan air dan sabun yang ada di villa sebelum dimasukkan nasi goreng, menu sarapan villa, ke dalamnya. Anak-anak sempat sarapan sedikit di mobil. Perjalanan kami dari Villa Bambapuang menuju desa Buttubatu, namun sebelumnya singgah di desa Papi menjemput keluarga yang akan mengantar kami ke Buttubatu. Di desa Buttubatu itu, suamiku diminta untuk memberikan materi tentang Pendidikan Berkualitas di depan guru-guru di desa itu. Malam sebelumnya, suamiku di-sms oleh panitia dan menanyakan kesediaanku untuk juga memberikan materi. Wah…….mana bisa aku menyiapkan materi dalam waktu sesingkat itu. Tapi setelah diskusi dengan suamiku, akhirnya aku menyanggupi memberikan materi singkat tentang Tips-tips Praktis Meraih Sukses …..kalau itu sih tidak perlu persiapan, berdasarkan pengalaman pribadi dan pengalaman orang lain yang bisa kuingat-ingat saja.



Perjalanan ke Buttubatu ternyata tidak semudah yang kami pikir. Memang jalanannya menanjak tapi seandainya semalam tidak hujan, mungkin mobil Xenia kami tidak akan kesulitan melewatinya. Pada sepotong jalan yang rusak nampak agak berlumpur, nah di situlah masalah terjadi. Mobil yang kami tumpangi ngambeg, tidak mau jalan terus, tetapi memilih mundur terus. Setelah tiga kali berulang, akhirnya suamiku memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan. Kami kembali ke desa Papi, di rumah keluarga kami. Suamiku menelpon panitia di Buttubatu dan menyampaikan keadaan kami saat itu. Akhirnya panitia mengatakan akan menjemput kami. Suamiku memilih membonceng motor seorang kenalan dari Papi, sementara ia memintaku menunggu kendaraan yang menjemputku. Anak-anak kupikir lebih aman tinggal di desa Papi saja toh mereka pasti tak akan sabar menunggu kami ceramah.
Ternyata aku dijemput dengan mobil. Semula aku ragu-ragu karena kemungkinan akan mengalami hal yang sama dengan Xenia kami tadi. Tapi mereka meyakinkan bahwa itu adalah mobil angkutan umum yang biasanya pergi-pulang ke Buttubatu. Ooh iya, Panther. Berangkatlah aku dengan tenang. Tapi kenyataan berkata lain. Kami harus mengalami hal yang sama seperti yang dialami Xenia kami. Aku sampai berkata,”Saya turun saja ya, biar saya jalan kaki sampai jalan yang agak baik.” Mereka mencegahku. Kami tetap di dalam mobil dan mengalami mundurnya mobil sampai 3 kali. Perutku terasa kaku menahan ketegangan. Syukurlah akhirnya kami berhasil melalui jalanan yang bermasalah tersebut.
Seminar yang rencananya dimulai pukul 9.00 harus molor sampai 10.30. Pikiranku hanya tertuju pada anak-anak yang tadi sudah berpesan agar kami tidak lama-lama di Buttubatu. Mudah-mudahan mereka bisa mengerti. Acara seminar yang diadakan di SDN 42 Buttubatu berlangsung dengan baik dan diskusi berjalan dengan lancar. Sambutan warga sangat hangat dan antusiasme mereka dalam diskusi cukup besar. Pada kesempatan itu Kepala Dinas Diknas kabupaten Enrekang juga hadir menyampaikan materi. Ternyata peserta seminar bukan guru-guru seperti yang kami ketahui sebelumnya, tapi warga setempat, kepala sekolah dan sebagian mahasiswa yang berasal dari desa tersebut. Tak apalah, yang penting materi yang kami berikan bisa sampai kepada mereka dan dipahami dengan baik. Syukur-syukur bisa diterapkan nantinya.

Bergoyang-goyang di atas jembatan gantung
   
     Pukul 14.30 baru kami meninggalkan Buttubatu, menjemput anak-anak di Papi lalu melanjutkan perjalanan ke desa Galung. Mengingat ban mobil kami bermasalah sejak di desa Pekalobean maka kami khusus mencari bengkel untuk memompa dan mengganti ban. Perjalanan ke Galung kami tempuh melalui arah lain. Kalau pada saat idul Adha 1431 yang lalu kami ke Galung melalui desa Tungka, sekarang kami melalui desa Temban. Uniknya adalah, mobil melewati sebuah jembatan gantung yang bergoyang-goyang. Sebenarnya jembatan serupa juga ada antara desa Tungka dan desa Galung, namun bedanya, di sana jembatan hanya cukup dilalui oleh orang yang berjalan kaki atau motor, okelah…dua motor yang berpapasan masih bisa melalui jembatan tersebut. Tapi jembatan gantung di antara desa Temban dan desa Galung dapat dilalui oleh mobil namun hanya berukuran satu mobil, sehingga seseorang harus mau bertindak sebagai penjaga di ujung jembatan untuk menghentikan mobil lain atau motor yang akan lewat sebelum mobil yang sudah ada di jembatan lewat dengan lancar. Alhasil itulah yang kami lakukan saat itu.




     Saat itu kondisi Raihan tidak terlalu baik. Sejak perjalanan menuju Papi pagi tadi ia sudah mengeluh sakit perut dan sakit kepala, tapi kami hanya menganggapnya biasa karena melewati jalan yang berkelok-kelok. Dalam perjalanan ke desa Galung, ia lebih banyak berbaring di mobil. Sehingga ketika melewati jembatan gantung, aku, Fauzi dan Fika turun dari mobil dan berjalan duluan untuk menghentikan mobil atau motor yang akan lewat. Anak-anak sangat menikmati hal tersebut.
     Sesampai di desa Galung, waktu sudah menunjukkan pukul 17.00. Kondisi Raihan ternyata tidak lebih baik. Ia muntah-muntah dan demam. Sibuklah kami dan keluarga yang kami datangi, menyiapkan teh panas dan makanan untuk Raihan. Namanya juga orang sakit, mana ada makanan yang enak. Semalaman aku juga mengalami sakit kepala tapi bagiku itu hal yang biasa karena aku memang sering mengalami mabuk perjalanan, sakit kepala masih tergolong ringan, yang parah kalau sampai muntah-muntah. Namun kukira untuk Raihan bukanlah hal yang biasa karena malam harinya ia mengalami diare.

Pulaaaang……..

     Keesokan harinya kami sudah bersiap-siap untuk kembali ke Makassar, tapi sebelumnya kami perlu bersilaturahmi ke rumah keluarga-keluarga di Galung. Karena masih dalam suasana idul Fitri tentunya tidak bisa dihindari setiap berkunjung ke rumah keluarga kami disuguhi minuman dan kue-kue, sampai anak-anak kembali berbisik,”Kenapa kita kerjanya makan terus di desa…..”
     Rumah yang kami tinggali di Galung letaknya tepat di sisi lapangan luas sehingga pandangan kita seakan lepas bebas. Di sisi lain berdiri SDN 139 Galung, tempat suamiku bersekolah dulu. Konon kabarnya ketika SD dulu ia dan teman-temannya harus menimba air dan membawanya dengan ember untuk menyiram lantai kelas mereka yang terbuat dari tanah untuk menghindari debu yang beterbangan. Wah, tentunya lantainya jadi agak becek ya. Kondisi sekolah tersebut sudah jauh lebih baik saat ini, sama dengan sekolah-sekolah lain pada umumnya.
     Aku ingat pernah berkata pada anak-anakku yang merasa tak punya ruang gerak di dalam mobil,”Tenang saja, nanti sesudah dari desa pasti barang-barang kita berkurang, kan sudah dibagi-bagi di desa, jadi kalian bisa lebih bebas bergerak di mobil.” Kenyataannya tidaklah demikian. Di desa terakhir yang kami kunjungi bahkan paling banyak kami diberi buah tangan yang ukurannya tidak tanggung-tanggung seperti beras satu karung, kelapa muda beberapa butir, sampai ayam jago. Hal itu bisa terjadi karena suamiku berkata bahwa ia ingin memiliki ayam di rumah agar suasana rumah lebih hidup khususnya ada yang membangunkan saat subuh. Ia lupa di rumah sudah ada kucing, ikan, kura-kura, bahkan tokek yang bersembunyi di kamar mandi dan kecoa yang kadang muncul pada malam hari…… Anak-anakku mulai gelisah ketika melihat seekor ayam jago mulai di”kemas” di dalam kardus yang dilubangi. Mereka protes,”Kenapa harus bawa ayam segala, bagaimana di mobil nantinya, kasihan dia, nanti sudah bernafas, tidak bisa bergerak……” Tapi menurut suamiku mereka sudah biasa membawa ayam dalam perjalanan ke luar kota, jadi “kemasan”nya juga khusus. Ketika suamiku masih akan berbincang-bincang dengan keluarga pemilik rumah, anak-anakku semakin gelisah. Raihan akhirnya berucap,”Sudah bapak, jangan lama-lama di sini. Semakin lama kita tinggal bisa-bisa kita dibawain kambing….”
     Pukul 10 kami meninggalkan Galung. Go home! Kami excited membayangkan akan melewati jembatan gantung lagi. Karena kondisi Raihan sudah lebih baik dibandingkan ketika tiba di Galung sehari sebelumnya, maka kami berbagi tugas. Aku, Fauzi dan Fika turun dan berjalan terlebih dahulu untuk menghentikan kendaraan yang akan lewat, sedangkan Raihan turun juga, tapi ia berada di belakang mobil, tepatnya di bawah jembatan untuk memotret mobil saat berada di atas jembatan. Aku pun memotret dari sisi depan. Proses pendokumentasian tuntas sudah. Kami masih akan berfoto di jembatan gantung kalau Raihan tidak mengeluh sakit perut lagi. Ternyata sesungguhnya ia belum sehat benar.

     Perjalanan pulang ke rumah terasa lebih lama karena di kota Enrekang kami masih mampir ke rumah keluarga yang kosong pada saat kami tiba beberapa hari yang lalu. Ternyata mereka berada di rumah keluarga yang lainnya yang sedang punya hajatan menikahkan anaknya. Akhirnya kami tiba di rumah tersebut. Meskipun tadi sudah sarapan di Galung, tak pantaslah kami menolak ditawari makan di rumah tersebut, apalagi mereka akan punya hajatan. Kami makan meski hanya sedikit, tapi Raihan sama sekali tak bisa makan. Satu peristiwa unik terjadi di rumah keluarga tersebut. Karena di dalam rumah terasa gerah, maka kami pindah ke teras depan yang berangin dan menikmati makanan kami di situ. Dari teras kemudian tercium aroma masakan yang dibuat di dalam rumah. Aku tak tahu apa itu, tapi lucunya, Fika langsung berkomentar dengan suara yang tegas seperti biasanya,”Enaknya bau tempe gorengnya.” Haaaaa…. Kami terkejut ketika ia dengan yakin mengatakan bahwa itu adalah aroma tempe goreng. Ibu pemilik rumah yang tadinya menemani kami di teras depan lalu bergegas masuk ke dalam rumah. Tak lama kemudian ia keluar dengan membawa piring kecil berisikan tempe goreng yang diiris tipis memanjang. Ooooh…ternyata memang benar tempe goreng. Tentu nantinya akan dimasak menjadi hidangan pesta tapi karena sudah terlanjur tercium aromanya, ya sudah tempenya sajalah yang dikeluarkan. Dasar Fikaa.
     Perjalanan kami lanjutkan. Kami berhenti untuk sholat di sebuah mesjid di Sidrap. Sejak berangkat dari Makassar anak-anak sudah menyampaikan keinginan mereka untuk makan di Rumah Makan Es Teler 77 di Pare-pare. Padahal di mana pun kupikir sama saja, tapi letaknya di kota Pare-pare adalah di seberang pantai, mungkin inilah yang mengesankan bagi anak-anak. Ternyata kondisi Raihan tidak lebih baik. Ia yang memesan ini dan itu akhirnya hanya memakan sedikit saja karena perutnya masih melilit katanya. Kasihan juga aku melihatnya karena pada dasarnya anak itu sangat doyan makan. Memang makanan yang masuk ke perutnya tidak menjadikan ia gemuk tapi tinggi, berarti tetap saja ada manfaatnya. Nah, kondisinya saat ini di luar kebiasaannya yang sebentar-sebentar makan, sebentar-sebentar makan. Saat berhenti di Es Teler 77 itu kami sempatkan untuk melihat kondisi ayam jago yang kami bawa dari desa Galung. Anak-anak yang meributkan ayam itu karena kuatir kepanasan lah, tidak bisa bernafas lah, kelaparan lah.
Menjelang maghrib kami berhenti di Pangkep untuk sholat. Karena sudah gelap aku tidak berani mengendarai mobil yang sudah kulakukan sejak di Pare-pare, yang jelas ketika jalanan lurus tidak ada pendakian dan penurunan. Mungkin karena faktor usia atau sejenisnya, pandanganku tidak terlalu tajam pada malam hari. Kalau hanya di dalam kota Makassar dan tidak terlalu jauh aku masih berani tapi kalau sudah hitungan luar kota, I give up. Kami tiba di rumah pukul 20.00 kurang. Sebenarnya kami diminta langsung ke Perumahan BTN Wesabbe, di rumah mertua karena saat yang bersamaan ibu mertuaku kembali dari tanah suci. Tapi karena kami, terutama suamiku, sudah kelelahan, kami tidak sanggup lagi. Kami minta diantarkan saja makanan dari Wesabbe (hehehehe…..ini namanya anak dan menantu yang tidak tahu diri).
      Alhamdulillah kami kembali ke rumah. Meskipun keadaan rumah berantakan, apalagi Fadhil juga sehari sebelumnya baru kembali dari Barru, tapi tak apalah, yang penting sudah kembali ke rumah, menghempaskan badan ke atas kasur dan mencium bantal di kamar, sudah terasa sangat nyaman. Suatu perjalanan yang mengesankan terutama karena selama empat hari kami menginap di empat desa yang berbeda. Mudah-mudahan anak-anakku banyak mendapatkan pelajaran dari kunjungan dari desa ke desa kali ini, apalagi melihat kondisi beberapa anak seusia mereka yang tidak seberuntung mereka, semoga membuat mereka semakin bisa mensyukuri nikmat Allah yang tak pernah berkurang, dan senantiasa rela berbagi.

Last but not least

    Kasihan Raihan, setiba di Makassar sampai 3 hari berikutnya ia menderita diare yang membuat berat badannya turun. Semula kami tidak menduga sampai seserius itu. Ketika kami mencoba melakukan flashback terhadap perjalanan kami yang baru lalu, akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa hal itu terjadi karena kelalaian kami. Kondisi Raihan memang tidak terlalu fit karena ia sering pusing setiap perjalanan ke luar kota. Kemudian pada hari kami meninggalkan Villa Bambapuang menuju Buttubatu, wadah Tupperware yang berisi sisa makanan yang sudah basi hanya kami cuci dengan air dan sabun, tanpa dibilas dengan air panas, setelah itu diisi dengan nasi goreng menu sarapan dari villa. Padahal sesuai ilmu yang kami miliki, sisa makanan tersebut pasti mengandung bakteri berbahaya yang harus dimusnahkan dengan perlakuan panas, tidak hanya sekedar air dan sabun. Ternyata anak kami yang harus menderita akibat pikiran praktis orang tuanya. Meskipun Fauzi dan Fika juga memakannya tapi kondisi tubuh mereka saat itu lebih sehat dibandingkan Raihan sehingga tidak memberi efek diare seperti Raihan. Pengalaman pahit yang berharga telah kami dapatkan, semoga di waktu-waktu yang akan datang tidak terjadi lagi.

Tamalanrea, 19 Oktober 2011

Jumat, 27 Mei 2011

MUSLIMAH YANG BERKEPRIBADIAN*


Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahirabbilalamin. Segala puji bagi Allah SWT,Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam tetap terlantun bagi Rasulullah  Muhammad SAW beserta keluarganya yang mulia, sahabat-sahabatnya yang tercinta dan pengikutnya yang setia hingga akhir zaman.
Adik-adik mahasiswi yang dirahmati Allah SWT. Berbahagialah para muslimah karena kita ditakdirkan menjadi perempuan, yang memiliki banyak kelebihan dalam berbagai sisi kehidupannya. Berbahagialah perempuan yang mendirikan shalat dan berpuasa dengan taat dan khusyuk, yang  menutup aurat dan mempunyai rasa malu, yang berwibawa dan mempunyai sikap teguh, yang terpelajar, terdidik, serta selalu menelaah dengan penuh kesadaran dan selalu dituntun oleh pentunjuk, yang memenuhi janji dan memegang amanah, yang jujur dan mempercayai kebenaran. Berbahagialah perempuan yang senantiasa bersabar, bertaubat dan hanya tunduk serta berharap kepada Allah, yang selalu berdzikir, bersyukur dan berdakwah dengan giat dan cekatan, yang meneladani Asiyah, Maryam dan Khadijah, yang mendidik anak-anaknya dan mencetak generasi-generasi sejati, yang memelihara nilai-nilai kesucian dan menjaga keteladanan Nabi-Nya. Berbahagialah perempuan yang merasa terusik terhadap pelanggaran ketentuan yang diagungkan dan dihormati serta menjauhkan diri dari perkara-perkara yang haram (dikutip dari buku Dr. Aidh bin Abdullah Al-Qatni, MA)..

 

*disampaikan sebagai keynote speech pada Konferensi Mahasiswi se Sulselbar, Sabtu, 21 Mei 2011.
**dosen Fakultas Pertanian Unhas


Muslimah yang berpendidikan  
Adik-adik mahasiswi yang dirahmati Allah SWT, muslimah dan ilmu atau pendidikan tak dapat dipisahkan. Tak ada muslimah yang mau tinggal bodoh atau dibodoh-bodohi atau memperbodoh diri sendiri. Menuntut ilmu menjadi suatu kewajiban ketika kita ingin membuat suatu perubahan dalam berbagai aspek kehidupan. Muslimah yang terdidik dan berilmu akan memberi kontribusi yang besar bagi suatu kebangkitan baik dalam lingkup kecil yaitu keluarga dan kerabat maupun dalam lingkup yang lebih besar yaitu umat.
Rasulullah SAW melihat bahwa pendidikan harus dimulai dari dalam diri (nafs) atau mental. Sebab jika pendidikan tidak dimulai dari dalam (mental) maka apapun manifestasi pendidikan tersebut hanyalah manipulatif. Pendidikan adalah proses manusia untuk menjadi sempurna yang diridahi oleh Allah SWT. Kesempurnaan tersebut adalah kesempurnaan yang diridhai oleh Allah SWT bagi hamba-hambaNya serta kesempurnaan yang ditetapkan oleh syariatNya. Bukan kesempurnaan yang digariskan oleh para filsof (Hafidz Abdurrahman, 2005). 
           
Kesuksesan muslimah
            Adik-adik mahasiswi yang dirahmati Allah SWT. Apa sesungguhnya definisi dari “sukses”? Lebih khusus lagi apa makna kesuksesan bagi seorang muslimah? Apakah ia dikatakan sukses jika sudah meraih gelar sarjana, terutama jika dengan predikat “cum laude”. Ataukah jika ia sudah memperoleh pekerjaan dengan gaji di atas rata-rata? Sebagian muslimah mungkin menganggap sukses adalah jika sudah lolos menjadi PNS sesuai cita-citanya sejak kecil. Sebagian lagi mungkin menganggap sukses adalah jika berhasil bergabung dengan perusahaan multinasional atau bahkan perusahaan asing dengan penghasilan yang menggiurkan. Tapi alih-alih bisa menikmati hasil kerjanya, sebagian besar mungkin merasa tersiksa karena harus berangkat kerja pagi-pagi sekali dan kembali ke rumah pada malam hari dalam kondisi kelelahan yang amat sangat. Masih ada banyak lagi definisi sukses yang bisa muncul karena setiap pribadi akan mendefinisikannya sendiri-sendiri.
            Saya pun memiliki definisi sukses sendiri yang telah saya pikirkan masak-masak dan saya yakini bahwa definisi itu buatan saya sendiri tanpa campur tangan orang lain. Sukses bagi saya adalah jika telah dapat memberikan manfaat bagi orang lain, jika telah dapat memberikan kebahagiaan, ketenangan dan kenyamanan bagi orang lain dan jika keberadaan saya diharapkan oleh orang lain yang semuanya saya lakukan atas ridha Allah SWT.
            Dalam sebuah buku yang pernah saya baca, kesuksesan adalah memastikan bahwa tidak satu detik pun yang dilewatkan tanpa meraih ridha Allah SWT, dengan memenuhi semua kewajiban dari Allah SWT dalam semua aspek kehidupan, baik itu dalam ibadah, sebagai istri, ibu, anak, memenuhi kontrak kerja, menutup aurat di wilayah publik, bergaul terpisah dari laki-laki atau mengemban dakwah untuk meninggikan kalimat Allah SWT (Saifullah,. 2008).

Kodrat sebagai perempuan
            Adik-adik mahasiswi yang dirahmati Allah SWT. Saya selalu merasa terusik setiap kali mendengar pendapat bahwa seorang perempuan tak perlulah sekolah terlalu tinggi karena nantinya akan masuk ke dapur dan menjadi ibu rumah tangga. Pada masa sekarang pun kalimat itu masih sering terdengar. Sebenarnya yang membuat saya merasa terusik bukanlah makna tersurat dari kalimat tersebut namun lebih pada makna tersirat. Memangnya apa yang salah dengan profesi ibu rumah tangga. Sampai saat ini saya masih sering merasa “iri” (sengaja saya beri tanda kutip karena iri di sini berkonotasi positif, yaitu iri yang akan memacu kita memperbaiki diri, jadi bukan iri yang berkonotasi negatif yaitu tidak suka melihat capaian orang yang lebih dari kita). Saya merasa iri dengan ibu rumah tangga yang sanggup memberesi semua permasalahan di rumah, sanggup menyiapkan dan menyajikan makanan-makanan yang sehat, bergizi, aman dan halal bagi keluarganya, sanggup mendampingi anak-anaknya mengerjakan pekerjaan rumah mereka, sanggup mendidik anak-anaknya agar berakhlak baik dan bersikap santun kepada semua orang, sanggup mendampingi suaminya dan menjadi tempat curhat bagi suaminya dengan masalah pekerjaannya, tapi masih juga bisa tersenyum ceria setiap saat seakan tidak pernah merasa lelah. Tentulah yang ada dalam benak perempuan-perempuan seperti itu adalah keyakinan dan keihlasan menjalankan kodratnya sebagai perempuan. Kondisi itu yang kadang membuat saya merasa rendah diri jika bertemu dengan perempuan-perempuan hebat seperti itu.
            Kembali pada urusan menuntut ilmu yang tinggi, lalu, apa gunanya jika seorang muslimah nantinya menjadi ibu rumah tangga dan tidak memanfaatkan atau menerapkan ilmu yang sudah diperolehnya dengan susah payah.
Adik-adik mahasiswi yang dirahmati Allah SWT. Profesi ibu rumah tangga biasanya dibedakan dengan wanita karier yang bekerja di luar rumah. Namun pada masa sekarang perbedaan itu pun mulai menipis. Seorang wanita karier tidak harus bekerja di luar rumah, demikian juga seorang ibu rumah tangga dapat pula berkarier di rumah. Hal ini akan lebih memudahkan muslimah untuk memenuhi kodratnya sebagai  perempuan yang harus mengurus dan mendidik anak namun juga dapat membantu suami mencari tambahan penghasilan dari rumah. Di sinilah manfaat ilmu yang diperoleh. Tentunya kita sebagai muslimah akan merasakan suatu kebanggaan jika mampu mendidik anak-anak kita menjadi pribadi yang shalih dan shalihah,  pandai, santun dan senatiasa berpegang pada Al Qur’an dan As-Sunnah. Muslimah harus berilmu, harus berpendidikan, harus pandai, agar bisa menularkan ilmunya kepada orang lain.     
Adik-adik mahasiswi yang dirahmati Allah SWT. Ada sebuah tulisan yang cukup menyentuh perasaan saya yang  bercerita tentang ungkapan hati seorang anak kecil terhadap ibunya. Ia mengatakan bahwa Umiku adalah teladan pertamaku, karena Umiku, kucinta ilmu, karena Umiku, kuingin berdakwah. Umiku adalah teladan pertamaku, saat aku belum mampu menjangkau seperti apa keteladanan yang diajarkan Rasulullah. Aku bersyukur, Umiku selalu ada di dekatku, menentramkanku, membelai kepalaku, membuatku tertidur begitu nyenyak hingga sel-sel kelabu dalam otakku pun bekerja dengan sangat baik. Saling mengait membentuk jaringan yang kelak akan menyempurnakan sistem kerja komputer otakku. Umiku yang sabar bukan berarti ia keluaran sekolah rendahan. Tidak. Ternyata ia seorang insinyur, lulusanperguruan tinggi terkemuka di kota ini. Predikat kelulusannya “sangat memuaskan”. Berarti ia adalah seoramg wanita yang cerdas. Untuk itulah ia ingin mengoptimalkan kecerdasannya untuk merawatku, putri kesayangannya. Pernah kudengar ia mengatakan “setidaknya kuoptimalkan pikiran, waktu dan tenagaku untuk menyempurnakan pengasuhan di periode emas pertumbuhannya. Soal tawaran berkarir, nanti saja kupikirkan lagi sampai pengasuhan putriku telah kusempurnakan. Itupun bisa kuterima tawaran itu atau tidak tergantung waktu luangku”. Luar biasa, bukan. Ia mengatakan berkarir hanyalah bila ada waktu luang saja. Sementara di sisi lain, banyak para ibu yang justru mengutamakan karirnya dan mengisi waktu luangnya dengan mengasuh anak (Lathifah Musa, 2005). Semoga kita dapat memetik manfaat dari kisah tersebut.
Adik-adik mahasiswi yang dirahmati Allah SWT, ilmu yang kita peroleh di setiap jenjang pendidikan akan menjadi bermanfaat manakala kita bisa menerapkannya untuk tujuan yang mulia. Kita tak boleh hanya duduk manis dan menerima keadaan dengan menganggap toh kita bukan penentu kebijakan. Dimulai dari lingkup kecil di dalam keluarga, di dalam kelompok kajian, kelompok muslimah sampai komunitas besar seperti yang ada pada hari ini, kita akan bisa membuat perubahan ke arah yang lebih baik demi umat.
Demikian penyampaian saya. Terima kasih atas perhatian adik-adik mahasiswa, jika ada kesalahan atau kekurangan dalam penyampaian ini saya mohon maaf karena segala kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT.

Pustaka Acuan:
1.    Dr. Aidh bin Abdullah Al-Qarni, MA, 2004. Tips Menjadi Wanita Paling Bahagia di Dunia, Maghfirah Pustaka, Jakarta.
2.    Hafidz Abdurrahman, 2005. Membangun Kepribadian Pendidik Umat, Wadi Press, Jakarta.
3.    Lathifah Musa, 2005. Namaku Jannah, Pustaka Ar-Raudhoh, Yogyakarta.
4.    Saifullah (editor), 2008. Islam & Wanita; dari rok mini hingga isu poligami, Pustaka Thariqul Izzah, Bogor.

Selasa, 29 Maret 2011

Sebuah Renungan



Coba renungkan! Pernahkah dalam kehidupan ini kamu mengalami hal-hal yang sangat luar biasa, yang di luar dugaan, yang seakan dapat mengubah hidup kamu dalam sekejap atau yang lebih dalam lagi, menyadarkan kamu bahwa dalam setiap langkah kehidupan kamu selalu ada campur tangan Allah SWT. Jujur aku katakan, aku sering mengalami hal itu. Dulu kesadaran itu belum sepenuhnya muncul, namun ketika (Alhamdulillah) aku diberi ingatan yang bagus untuk melakukan flash back terhadap kejadian-kejadian tersebut, barulah perasaan itu muncul. Sadarkah kamu ketika mengalami hal yang tidak menyenangkan bahwa mungkin itu merupakan balasan atau peringatan Allah terhadap kita yang sudah melakukan “kesalahan”. Sengaja aku beri tanda kutip karena kata “kesalahan” punya tingkatan dari 0,1 -100%, tergantung darimana kita menilainya dan bagaimana metode penilaiannya. 


Once upon a time, aku pernah terpancing untuk menceritakan orang lain dengan nada yang sumbang, ber-ghibah, begitu tepatnya. Saat itu ada diskusi antara aku dan seorang kolega tentang kesulitan kami menyelesaikan beberapa urusan yang terkendala oleh Mr. X. Mendengar kolegaku menyebut nama Mr. X segera akupun menimpali dengan komentar-komentar senada yang berkesan negatif terhadap Mr.X. Akhirnya diskusi selesai begitu saja, tanpa kesimpulan. Selanjutnya karena waktu sudah menunjukkan pukul 15.00, aku memutuskan untuk meninggalkan kantor. Merasa tak sanggup membawa beberapa tas yang berisi buku, dokumen dan barang lainnya, aku panggil seorang mahasiswi untuk membantu membawakan sampai ke tempat parkir. Cukup jauh, dari lantai 3 ke lantai 1. Jadi aku membawa tas dokumen dan tas laptop sedangkan mahasiswi tadi juga membawa dua tas kecil lainnya (plus tas dia sendiri). Sesampainya di tempat parkir baru aku ingat bahwa ternyata aku memarkir mobil di halaman Pasca Sarjana yang letaknya lebih jauh lagi dari Fakultas Pertanian. Tak jadi masalah. Di depan kami terbentang selokan kecil, tidak dalam dan kering. Aku sudah sering melangkahi selokan itu sehingga ketika mahasiswi tersebut mengajak memutar jalan yang lebih aman, aku menolak. Beda dengan kebiasaan sebelumnya, kali ini aku tidak melangkahi selokan tersebut namun menjejakkan kaki ke dalam selokan untuk kemudian melangkah naik. Apa yang terjadi selanjutnya? Ketika kaki kananku menyentuh dasar selokan, seketika itu jg seluruh tubuhku ambruk ke dalam selokan dan barang-barang bawaanku menimpaku. Persis peribahasa “Sudah jatuh tertimpa tangga”. Sesaat aku tak bisa menggerakkan tubuhku sehingga mahasiswi tadi kebingungan membantuku berdiri. Perlu waktu untuk memulihkan kondisiku sampai akhirnya aku dituntun masuk ke mobil. Singkat cerita aku tersadar dan memohon ampunan Allah atas ghibah yang baru kulakukan tadi siang. Setiba di rumah aku segera menunaikan sholat dan kembali mohon ampun kepada Allah. Sungguh di luar dugaanku bahwa ternyata kakiku tidak sampai mengalami bengkak dan sakit hanya kurasakan selama beberapa jam saja sehingga keesokan harinya aku sudah bisa beraktivitas seperti biasanya. Selama ini sudah tiga kali aku mengalami hal yang sama, pertama ketika masih kuliah semester 6 di UGM dan yang kedua ketika sudah menjadi dosen, kira-kira dua tahun setelah kembali dari studi di Jerman. Akibat terkilir di tempat kerja dan harus istirahat beberapa hari karena kaki yang membengkak. I do remember, bahwa saat itu aku tidak introspeksi diri dan mungkin menyalahkan sepatu yang tidak beres atau lantai yang licin.....




Kisah berikut ini baru saja terjadi, tepat tanggal 16 Maret yang lalu. Aku diundang mengikuti evaluasi kelayakan dan seminar hasil penelitian hibah kompetensi di Jakarta. Kebetulan kakakku yang dosen IPB juga mendapat undangan yang sama. Kami adalah dua orang di antara 225 dosen seluruh Indonesia yang diundang. Biasanya untuk seminar hibah penelitian lainnya dibedakan lokasi wilayah Barat dan Timur, namun untuk seminar hibah kompetensi dipusatkan di Jakarta. Beberapa hari sebelumnya kakakku sudah menghubungiku dan kami sepakat untuk nantinya sekamar di Jakarta karena kondisi kakakku yang sangat tidak memungkinkan......saat ini karena suatu musibah yang ia alami mengharuskan ia menggunakan kruk di tangan kanan dan kirinya. Tentunya ia akan merasa lebih nyaman jika aku yang notabene adiknya, yang menemaninya mengambilkan makanan dan keluar masuk toilet dan lift. Ketika aku tiba lebih dahulu di hotel Sheraton Media, lokasi seminar, karena aku menggunakan pesawat paling pagi dari Makasar, ia masih dalam perjalanan dari Bogor ke Jakarta. Sungguh terkejut aku membaca buku panduan pelaksanaan seminar sesaat setelah selesai registrasi. Sulit dipercaya bahwa aku dan kakakku bisa berada dalam satu kelompok pembahasan seminar padahal bidang kami berbeda jauh dan belum pernah kami berada dalam satu event yang sama. Ya, aku di bidang teknologi pangan, ia di bidang kedokteran hewan. Total kelompok ada 11 dengan lokasi ruangan yang berbeda. Allah telah memberi kemudahan bagi kami. Berada dalam satu kelompok tentu membuat aku lebih leluasa membantu kakak menyiapkan presentasinya dan membawakan dokumen-dokumennya yang menjadi bukti pelaksanaan kegiatan. 




Baru saja kemarin (24/3) aku mengalami suatu hal lagi yang menurutku di luar kemampuanku sebagai manusia. Aku bermaksud meninggalkan kampus pukul 14.00 ketika kudapati mobilku tak dapat keluar dari tempat parkir di Fakultas Pertanian. Sebuah mobil Peugeot berwarna orange tepat berada di belakang mobilku. Ok, tak masalah, toh bisa kudorong. Meskipun agak riskan juga karena mobil tersebut letaknya tak jauh dari pembelokan, sehingga jika aku berhasil mendorongnya mundur (maju jelas tak mungkin karena di depannya ada mobil lain), aku harus mendorongnya maju dan mengembalikannya ke posisinya semula. Tak apalah, yang penting aku harus berusaha. Tapi ternyata mobil tersebut tak juga bergerak, wah....apa rem tangannya lupa dilepas ya? Kucoba sekali lagi, tetap tak bisa. Aku merasa benar-benar helpless. Tak mungkinlah aku berkeliling di sana dan menanyai satu persatu orang yang ada mungkin mereka tahu siapa pemilik mobil tersebut. Hampir setengah jam berlalu, sesekali aku masuk ke mobilku, sesekali berdiri di belakang mobilku sambil mengamati keadaan. Tak ada satupun yang bisa kulakukan untuk bisa mengeluarkan mobil dari tempat parkir. Sampai akhirnya ketika aku berdiri di belakang mobilku, tepatnya di samping mobil orange itu, kulihat dua orang mahasiswa mengendarai motor dan akan membelok ke tempat mobil kami diparkir. Pandangan mereka tertuju ke mobil Peugeot orange yang berada di belakang mobilku dan mengucapkan kalimat yang dapat kudengar dari posisiku berdiri, “Eh, sudah datang ibu F!” Aku tertegun. Ibu F......ibu F.....ibu F.....baru aku tersadar, aku tahu pemilik mobil itu, ya ibu F dari salah satu fakultas Agrokompleks. Aku kenal beliau tapi aku tak punya nomor handponenya. Dengan berbekal keyakinan kuat bahwa inilah petunjuk dari Allah, aku mencoba menelpon salah seorang dosen yang kukenal yang satu fakultas dengan beliau. Kutanyakan di telpon, “Apa benar mobilnya ibu F adalah Peugeot orange?” Ternyata benar, sehingga kukatakan selanjutnya, ”Minta tolong disampaikan ke ibu F, saya tidak berhasil memindahkan mobilnya yang berada tepat di belakang mobil saya, mungkin rem tangannya masih terpasang.” Alhamdulillah, semua berjalan lancar, tak lama kemudian, ibu F datang dan memindahkan mobilnya. Oh, ternyata ada batu kecil yang diganjalkan di ban belakangnya yang tidak kulihat sehingga aku tak sanggup mendorongnya tadi. Beliau meminta maaf, meskipun jelas ia tak salah, hanya aku saja yang tak bisa memindahkan mobilnya.Tapi aku kemudian berpikir seandainya tadi aku bisa memindahkannya, apa aku mampu mendorongnya lagi agar tak menghalangi belokan jalan??? Setelah mengucapkan terimakasih dan mengeluarkan mobilku, kutinggalkan tempat parkir tersebut dengan perasaan lega. Tak ada yang kebetulan bagi Allah karena semua sudah diaturnya dengan sempurna. (Tamalanrea, 25 Maret 2011)

Kamis, 10 Maret 2011

Makanan Tradisional Sulawesi Berbasis Ikan (Pengantar & Prakata)


KATA PENGANTAR

Indonesia adalah negara yang mempunyai wilayah laut yang lebih luas dibanding wilayah darat.  Dengan kondisi geografis seperti ini menjadikan Indonesia adalah negara dengan sumber daya laut melimpah.  Salah satu hasil laut yang memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi adalah ikan.   Ikan adalah makanan yang hampir tersedia setiap saat dan menjadi sumber protein utama bagi penduduk yang berada di sebagian besar wilayah di negara ini.  Tidak bisa diherankan, kebiasaan masyarakat khususnya di Sulawesi Selatan yang mengkonsumsi ikan ini melahirkan berbagai variasi pengolahan dan penyajian yang khas di wilayah ini.  Alhamdulillah, kekayaan yang luar biasa ini, telah ditulis dan dirangkai dalam buku yang saat ini ada di tangan pembaca.
Memang ada satu pertanyaan yang seringkali timbul dalam pikiran saya, mengapa ikan yang merupakan jenis makanan yang sangat sehat ini belum dikonsumsi secara optimal di negara ini.  Mengapa saya katakan demikian, karena kalau dilihat rata-rata konsumsi, jumlah ikan yang dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia ini masih kalah dibandingkan dengan negara-negara lain seperti Jepang, Masyarakat Eropah, bahkan USA.  Di beberapa propinsi di Sulawesi dan Maluku, seperti Propinsi Sulawesi Selatan, konsumsinya sudah menyamai negara-negara ini, namun ini tidak terlihat di wilayah Pulau Jawa.  Seharusnya Perilaku makan ikan setiap hari, yang sering dipopulerkan oleh pemerintah, harus menjadi wacana yang harus terus dipopulerkan di masyarakat kita.
Perlu juga disadari, bahwa kebiasaan masyarakat dalam pengolahan ikan secara tradisional harus terus diperbaiki.  Terkait dengan hasil survey yang dilakukan di masyarakat, memperlihatkan bahwa penyakit hipertensi telah menjadi penyakit yang paling banyak diderita oleh masyarakat kita.  Konsumsi ikan seharusnya menyehatkan, namun pengolahan ikan yang tidak tepat (kelebihan garam), dapat menjadi pemicu terjadinya penyakit yang mematikan ini.  Itulah sebabnya masyarakat harus dididik tentang pengolahan dan penyajian makanan dengan bahan dasar ikan yang benar. 
Saya sangat bersyukur, informasi pengolahan dan penyajian yang tepat ini telah digarap dengan baik dan bisa dibaca di buku ini.  Pemaparan yang sangat komprehensif tentang pengelolaan ikan di wilayah ini diberikan dengan begitu menarik.  Saya sangat yakin buku ini sangat bermanfaat dan tidak saja digunakan oleh para mahasiswa yang sedang mempelajari kekayaan teknologi pengelohan ikan di wilayah ini namun juga oleh masyarakat umum yang ingin mempelajari cara pengolahan dan penyajian yang tepat.   
Akhirnya, saya ingin mengajak kepada seluruh masyarakat untuk mencintai konsumsi ikan dan senantiasa memilih bahan makanan ikan sebagai sumber protein yang terbaik bagi tubuh kita.  Hasil penelitian yang telah dipublikasi memperlihatkan betapa konsumsi ikan merupakan makanan hewani yang sangat sehat bagi tubuh kita.   Dengan tersedianya buku ini, saya yakin masyarakat dapat lebih mudah mengolah dan menyiapkan aneka makanan ikan setiap hari di tingkat rumah tangga.  Tidak salah semboyan “Makan Ikan Setiap Hari” harus terus kita sebarkan dalam masyarakat kita. 

Makassar, Juni 2010
Prof. Dr. Veni Hadju, PhD
Guru Besar Ilmu Gizi, FKM Unhas, Makassar




PRAKATA
Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena atas karuniaNya jualah, akhirnya penulis dapat menyelesaikan buku berjudul Makanan Tradisional Sulawesi Berbasis Ikan.
            Buku ini berisikan aneka jenis makanan tradisional berbasis ikan dari enam propinsi di pulau Sulawesi yaitu Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Gorontalo, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Selatan. Kajian terhadap makanan tradisional diuraikan dalam bentuk resep, dokumentasi visual dan informasi kandungan gizi setiap jenis makanan tradisional tersebut. Pengelompokan jenis makanan tradisional berdasarkan perbedaan teknik pengolahan yaitu pengeringan, pengasapan, pemindangan / perebusan, fermentasi, pemanggangan / pembakaran, penggorengan / penumisan, pengukusan dan pengasaman.
Penulis menyampaikan terima kasih kepada Prof. dr. Veny Hadju, M.Sc, PhD yang telah memberi pengantar untuk buku ini. Selain itu disampaikan juga terima kasih kepada Nur Amaliah, STP; Indrastuti, STP; Nur Asia, STP; Nur Pratiwi, STP, Nur Jihad Syahra, STP dan Ir. Jumriah Langkong, MP yang telah membantu proses pembuatan produk dan dokumentasi serta proses pengumpulan data. Penghargaan dan terima kasih juga penulis sampaikan kepada Ibu Dra. Hj. Sadrah Yunus yang telah meluangkan waktu untuk melakukan proses pengolahan produk dan membantu desain visualisasi untuk keperluan dokumentasi, Sdri Siswanti Lusiana dan Sdri Uswatun Hasanah yang telah membantu pengolahan data nilai gizi dengan program Wfood, dan juga kepada semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu-persatu. Buku ini diterbitkan dengan bantuan pembiayaan dari DIPA Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DIKTI) melalui proyek penelitian Hibah Kompetensi Batch II dengan nomor kontrak No.241/SP2H/DP2M/V/2009 tanggal 30 Mei 2009
Penulis menyadari bahwa tentunya masih ada kekurangan dalam buku ini, oleh karena itu sangat diharapkan adanya masukan dari pembaca untuk perbaikan di masa yang akan datang.
Semoga buku ini dapat bermanfaat bagi pembaca.


Makassar, Mei 2010



Penulis

Ketika Rasa Syukur Tak Pernah Habis Terucap (Pengantar & Prakata)


PENGANTAR
Manusia diciptakan Allah SWT sebagai musafir, dan untuk menjadi musafir yang unggul  adalah jika bisa merenungi perjalanan hidup pahit dan manis secara bermakna.  Terlebih lagi,  jika bisa tertuang sebagai tulisan untuk menjadi makna yang berpesan, bukan sekedar tertinggal sebagai makna yang bisu dan bermisteri..

Meta Mahendradatta  telah melakukannya  melalui buku    “Ketika  Rasa Syukur tak pernah habis berucap...”  Pengalaman sederhana  seorang anak perempuan  ketika  kewalahan berbenturan dengan nilai sosial budaya yang bias jender, bisa menginspirasi kita  untuk lebih bijaksana ketika membaca persoalan hidup yang kompleks. Pengalaman seorang perempuan dewasa  eksis sebagai  akademisi yang profesional  dan  telah menjelajahi  berbagai  belahan dunia, namun tetaplah seorang seorang perempuan dengan segala keterbatasan.  Ini sangat bermakna bagi  perempuan berkarir  yang seringkali harus kalang kabut untuk selalu ingin tampil sebagai  wonder women, karena takut  ternilai tak mampu  dalam dunia domestik dan publiknya. 
                     (Dwia Aries Tina NK, Sosiolog)

PRAKATA
            Ketika berkas pertama sebagai bukti fisik untuk pengusulan guru besar telah kuserahkan kepada Pak Beri di kantor Dekanat Fakultas Pertanian UNHAS, Makassar, September 2008, terbersit rasa syukur yang dalam karena aku telah dapat melewati tahapan ini. Meskipun jalan menuju tujuan akhir masih jauh, namun proses yang telah aku jalani dan membawaku meniti langkah sampai pada jalan ini patut aku syukuri. Saat itu kuputuskan untuk mengungkapkan rasa syukur dalam sebuah buku kecil yang mudah-mudahan dapat memberikan inspirasi kepada orang lain untuk tak henti-hentinya mensyukuri nikmat Allah.
            Tidak akan habis kata terucap untuk menyatakan rasa syukur terhadap kenikmatan yang kita peroleh berupa kehidupan yang layak, kesehatan, kedamaian, kebahagiaan, kesuksesan, dari hal-hal besar hingga hal-hal kecil yang kadang terlewatkan bagi kita untuk meyakini bahwa Allah adalah maha pemberi tanpa batas. Detik ini pun aku masih belum percaya bahwa aku akan mencapai tingkat tertinggi dalam dunia akademik dan bahwa aku dapat menyelesaikan buku ini pada waktu yang tepat.
Karya ini memuat sebagian kecil perjalanan hidupku yang senantiasa kujalani dengan gembira dan semakin mendekatkan aku kepadaNya. Kisah-kisah singkat kutulis secara kronologis berdasarkan tahun kejadian .
……………………………………………………………………............................................penulis (April 2009)

Jagung dan Diversifikasi Produk Olahannya (Pengantar dan Prakata)


KATA PENGANTAR
            Syukur Alhamdulillah kita panjatkan ke hadirat Allah SWT karena diberi kesehatan dan kemampuan untuk terus berkarya. Saya memberikan apresiasi kepada penulis atas kerja kerasnya secara konsisten melakukan penelitian dengan berbasis pada jagung yang tertuang dalam buku berjudul ”Jagung dan Diversifikasi Produk Olahannya”.
            Kebijakan iptek pangan pokok bersama dengan kebijakan makro lainnya pada masa lalu telah menyebabkan terjadinya perubahan dan pergeseran kebiasaan pangan (food habit) sebagian besar penduduk Indonesia; yang cenderung tergantung pada beras. Kondisi ketergantungan pada beras ini telah menyebabkan memudarnya atau bahkan hilangnya kondisi pluralisme dalam food habit dan pluralisme dalam diversifikasi pangan pokok. Diversifikasi pangan merupakan elemen penting dalam pengembangan ketahanan pangan. Program diversifikasi pangan akan dapat berjalan secara berkelanjutan melalui dukungan berbagai pihak, baik masyarakat umum, akademisi, pengusaha, maupun instansi-instansi pemerintah dan swasta. Keberhasilan program ini secara langsung dapat memperbaiki ketahanan pangan daerah melalui pemanfaatan komoditi unggulan lokal. Salah satu komoditi yang cukup berperan sebagai komoditi unggulan yaitu jagung.
            Telah banyak dilakukan penelitian tentang jagung ditinjau dari berbagai aspek. Produk-produk baru sebagai hasil dari penelitian berbasis jagung, baik sebagai produk akhir maupun produk antara, telah pula dipublikasikan. Namun yang terutama sesungguhnya adalah bagaimana hasil-hasil penelitian tersebut dapat diaplikasikan oleh masyarakat luas sehingga tujuan dari program diversifikasi pangan, dalam hal ini diversifikasi pangan berbasis jagung, dapat tercapai.
            Akhir kata semoga buku ini dapat bermanfaat bagi semua khalayak dan instansi yang terkait.

Makassar, Januari 2008
Prof. Dr. H. Abd. Rauf Patong
Ketua Lembaga Penelitian Universitas Hasanuddin
______________________



PRAKATA
            Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT karena atas karuniaNya kami dapat menyelesaikan buku berjudul ” Jagung dan Diversifikasi Produk Olahan”. Dalam buku ini diulas mengenai jagung dan keistimewaannya, berbagai teknik pengolahan jagung, makanan-makanan khas berbahan baku jagung, serta beberapa produk hasil olahan jagung yang merupakan hasil penelitian yang mendukung program diversifikasi pangan.
Buku ini ditujukan untuk masyarakat yang ingin mengetahui tentang produk-produk olahan jagung secara tradisional maupun modern yang merupakan hasil penelitian unggulan di laboratorium. Selain itu diharapkan pula bahwa buku ini dapat memberi masukan yang bermanfaat bagi masyarakat yang berminat untuk mengembangkan produk-produk tersebut.
Kami menyampaikan terima kasih kepada DP2M-Ditjen-DIKTI-Depdiknas yang telah membiayai penerbitan buku ini melalui proyek Hibah Pusat Kajian Makanan Tradisional (PKMT) Tahun Anggaran 2007 Nomor: 096.D/PKMT/DP2M/IV/2007, kepada Prof. Dr. H. Abdul Rauf Patong yang telah menuliskan kata pengantar untuk buku ini dan Dr. Ir.  Amran Laga, MS yang telah mengedit buku ini.  Demikian juga kepada, Prof. Dr. Ir. Herry Sonjaya, DEA selaku Kepala Pusat Kegiatan Penelitian (PKP) Unhas dan Prof. Dr. dr. Nurpuji Astuti D., MPH selaku Kepala Pusat Penelitian Pangan, Gizi dan Kesehatan (PPGK) Unhas. Selain itu terima kasih disampaikan pula kepada Nurasia Sanusi, S.TP, Adriyani Yaman, S.TP, Nur Amaliah, S.TP, ibu Fatmawati, SKM, ibu Waode Mariyati serta para mahasiswa yang terlibat sebagai tim peneliti jagung dari Program Studi THP Unhas yang telah membantu pengadaan pustaka, mengolah dan mendokumentasikan beberapa resep makanan. Terimakasih disampaikan pula kepada semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu.
Kami berharap semoga buku ini dapat membuka wawasan dan bermanfaat bagi pembaca. Saran dan kritik dari pembaca sangat kami harapkan untuk perbaikan buku ini di masa mendatang.


Makassar, Juni 2008
 Tim Penulis