Selasa, 16 September 2014

Surat kecil untuk suamiku di hari ulang tahun pernikahan kami yang ke 23



Surat kecil untuk suamiku di hari ulang tahun pernikahan kami yang ke 23

Maafkan aku jika selama ini belum bisa menjadi istri yang sempurna bagimu.
Maafkan aku yang masih sering menomorduakanmu dari anak-anak kita.
Maafkan aku yang belum bisa mendampingimu dalam tugasmu mereview dan memonev penelitian perguruan tinggi se Indonesia dengan alasan-alasan yang kuanggap logis.
Maafkan aku yang masih harus terus belajar mengenal dan memahamimu karena pernikahan kita “baru” berusia 23 tahun.
............................
Semoga kita masih bisa menjalani kehidupan pernikahan ini sampai 25 tahun, 50 tahun dan seterusnya. Dan semoga Allah meridhai niat tulus kita untuk bersama-sama berdampingan dalam membesarkan dan mengentaskan anak-anak dalam kesehatan dan iman yang kuat. Aamiiin...............
Tamalanrea,
16/09/2014 




(Aku tahu suamiku tidak pernah membuka FB, blogspot dan sejenisnya jadi kemungkinan kecil ia akan membaca surat ini. Tetapi kalau nantinya sempat membaca, pasti reaksinya adalah memandangiku dengan raut cemas dan bertanya, ”Kamu tidak apa-apa kan? Kenapa nulis yang aneh-aneh seperti ini? Memangnya sekarang perasaannya bagaimana? Sana pergi periksa kesehatan!!”) ............always love you, dear.........





Kamis, 26 Juni 2014

Wonderful days in my past (I)

Ketika beberapa hari yang lalu aku menyelesaikan album foto khusus sebagai hadiah ulang tahun Fadhil, barulah aku sadar bahwa hidupku sangat berwarna ....colorful day, begitu kata orang sono. Album itu aku buat dengan bantuan Rehan dan Fauzi yang pergi cuci foto ke BTP dan Fika yang menggunting kertas komentar dan menempelkannya pada foto-foto tersebut. Kertas yang dipakai adalah karton hitam yang kemudian dijilid spiral, pokoknya super murah meriah. Foto yang ada di situ adalah foto-foto Fadhil sejak zaman bayi sampai kelas 6 SD ketika adik bungsunya lahir. Nah, aku jadi semangat membuka-buka lagi file foto-fotoku pada masa kecil sampai saat aku menikah. Beberapa foto inilah yang aku dapat, tidak banyak sebenarnya karena aku sama sekali tidak menyimpan foto-foto tersebut dalam bentuk fisiknya, semua ada di Bogor dan disimpan dengan rapi oleh almarhum ayahku di lantai  2 rumah mbak Hera, kakakku, di KPP Baranangsiang IV. Ini pun aku foto ulang menggunakan hp dari foto aslinya ketika aku mampir ke Bogor.  Jadi maklum lah kalau hasilnya kabur bin buram.

Foto pertama adalah ulang tahunku yang ke 7 di rumahku di Jl. Kenari (sekarang Jl. Yosef Latumahina, Asoka home stay). Aku berpose di samping televisi pertama kami yang hitam putih. Hiburan yang sangat menarik pada masa itu.

Ini foto waktu ultahku ke 8. Waah kelihatannya ini fotoku yang paling cantik......karena di foto lainnya aku tidak secantik ini.....hehehe...  Saat itu kami masih tinggal di Jl. Kenari.

Penampilanku di sini lebih mirip anak kecil yang habis main di jalanan dan belum sempat mandi.... Padahal ini saat ultahku ke 9 dan kami sekeluarga sudah pindah ke Jl. Karantina.

Di ultahku yang ke 9 rambutku sudah panjang dan penampilanku lebih anggun dengan gaun panjang dari bahan sutera warna orange tanpa lengan dengan pita beludru di pinggang.

Ultahku ke 10, sudah berponi dengan rambut terurai. Sejak kami pindah ke Jl. Karantina, setiap merayakan ultah, teman-temanku berkumpul di sekolah dan dijemput dengan mobil untuk diantar ke rumahku. Pokoknya unik abiiis...

Ini ultahku yang ke 11, dengan rambut sepanjang pinggang dan dikepang dua. Baju yang kupakai adalah yang paling kusuka. Kain chiffon warna salem dengan motif putih, panjang sebetis dengan potongan lebar ke bawah bertumpuk dua dihiasi bis putih bagian dada, leher dan ujung lengan. Sepertinya aku perlu merancang baju yang sejenis untuk kupakai saat ini.

Ada eyang kakung berpose di sebelah kiri. Foto ini penting sekali karena aku kehilangan kontak dengan sahabat penaku yang duduk di tengah berbaju merah dengan rompi dan rok kotak-kotak. Kami bertemu karena dia sekeluarga pindah ke Makassar. Sewaktu kuliah di UGM pun, kami sempat bertemu lagi. Masalahnya....... aku lupa sama sekali siapa namanya, jadi bagaimana aku bisa cari yaa??

Foto diatas (sebelah kiri) adalah ketika aku kelas 4 SD dan ikut pentas menari dari IKS (Ikatan Kesenian Sulawesi).....kalau tidak salah begitu nama kelompok seninya, yang terletak di Jl. Ratulangi tepatnya di rumah keluarga almarhum Andi Matalatta. Foto di sebelahnya sewaktu kelas 6 SD sedang pentas menari Jawa, waktu itu aku bergabung dengan kelompok kesenian Jawa, lupa apa namanya. Latihannya di sebuah kompleks perumahan Jl. Latimojong, yang sekarang menjadi bangunan-bangunan kosong tidak terawat.

Dulu sih aku main piano bukan karena keinginanku sendiri tapi seakan jadi “kewajiban” bahwa kami sekeluarga harus bisa bermain music....hehehe. Sekarang aku menyesal mengapa tidak menekuni piano dengan serius  (kacian deh) sehingga ketika anak-anakku mahir main piano, rasa sesalku sedikit terobati.....

Ini foto waktu SMP bersama teman sekelasku Mery Jama (duduk) dan Jostofina. Aku kehilangan kontak dengan si lincah Mery.

Merayakan kelulusan SMA di Solo, rame-rame ngumpul di rumah Naviandy. Tapi terus terang aku tidak tahu di mana rimbanya temanku yang satu itu. Teman-temanku yang ada di foto ini punya beragam profesi dan hubungan kami masih akrab sampai sekarang.

Sesaat setelah yudisium di FTP UGM. Sudah jadi tradisi bahwa pada setiap yudisium pasti calon wisudawan akan disiram air oleh teman-teman lain yang tidak menjalani prosesi yudisium. Tapi hebohnya saat periodeku, kami malah sudah lebih dahulu siap dengan ember-ember penuh air untuk membalas siraman air dari teman-teman. Jadi betul-betul terjadi perang air...

Seusai wisuda sarjana di UGM bersama ayah dan ibu.


Saat akad nikah di Solo, tepatnya sehari sebelum hari ultahku ke 25. Awalnya orang tuaku ingin kami menikah tepat di hari ultahku tapi aku menolak dengan alasan supaya nantinya ada dua kali syukuran yang bisa digelar dalam dua hari, yaitu hari ultah pernikahan kami dan hari ultahku...hmm....