Sabtu, 19 Agustus 2017

Don't give up, Meta


Aku sangat mensyukuri keadaanku saat itu. Melanjutkan studi ke Jerman di mana suami telah lebih dahulu di sana, berada di laboratorium yang sama dengan suami, dibimbing oleh supervisor yang sama. Sungguh beruntung aku mendapatkan supervisor yang ramah, penuh perhatian dan berkualifikasi sebagai penulis berbagai buku ilmiah. Bahkan sampai anak pertama kami lahir pun supervisor kami sempat memberikan saran yang cukup bijaksana agar kami dapat mengatur waktu dengan baik antara studi dan keluarga.
“Anda berdua tidak perlu kawatir, urusan menjaga anak bisa diatur dengan baik. Misalnya, Frau Mahendradatta kerja di laboratorium dari pagi sampai siang, kemudian siang sampai malam gantian Herr Tawali, jadi anak kalian tetap terurus” demikian saran beliau.
Semua itu tidaklah cukup bagiku untuk menjalani hari-hariku selanjutnya. Aku mulai merasa depresi terutama setelah anak kami lahir. Belajar secara otodidak mengasuh anak di negeri orang bukanlah hal ringan, apalagi mengurus rumah sambil bekerja di laboratorium. Mungkin saat itu aku terkena baby blue syndrome, yaitu suatu keadaan di mana seorang ibu mengalami depresi pasca melahirkan.
Penelitianku saat itu baru memasuki tahap awal. Aku tak bisa berkonsentrasi penuh untuk bekerja di laboratorium karena pikiranku terbagi antara studi dan anak. Aku bukanlah superwoman. Kondisi kejiwaanku mungkin sedang labil. Aku jadi sering marah pada bayiku. Kasihan sekali dia. (Sekarang baru aku sadar bahwa kondisi jiwa dan pikiran seorang ibu sangat mempengaruhi perkembangan anaknya. Sehingga apapun yang dilakukan oleh anak pertama kami sepanjang pertumbuhannya itu pasti akibat transfer energy negative yang kulakukan ketika ia masih bayi.) 
 Aku harus membandingkan beberapa metode analisis histamin untuk nantinya memilih metode yang paling efektif untuk diterapkan pada berbagai bahan pangan. Apa yang harus kulakukan jika dalam membandingkan saja aku sudah menemui kendala besar. Tak ada hasil yang komparabel, sehingga tentunya aku tidak bisa mengambil kesimpulan awal untuk memutuskan metode mana yang akan kupakai selanjutnya. Siang itu aku sangat depresi. Setiba di rumah sepulang dari institut, tangisku meledak seketika. Suamiku cemas melihatku. Semula aku sulit berkata-kata. Memang sejak kecil aku termasuk sulit mengungkapkan masalah pada orang lain sedekat apapun hubungannya denganku. Suamiku dengan sabar membujukkan untuk bicara. Akhirnya kukisahkan semua keresahanku tanpa titik koma. Helaan nafas baru kulakukan ketika keluhan sudah tumpah.
“Itu hal yang wajar. Setiap penelitian bisa berhasil bisa pula gagal. Tapi yang kamu lakukan sebenarnya sudah kelihatan hasil awalnya. Memang tidak bisa langsung jadi.” Demikian suamiku berusaha menenangkanku.
“Tapi ini baru langkah awal, sudah seperti ini. Kalau kejadian ini berulang terus, gagal lagi, gagal lagi, kita di negeri orang terbatas beasiswa…..” aku tak kuasa menyambung kata-kataku yang disertai isak tangis.
“Coba cari prosedur lain yang mungkin bisa diterapkan. Minggu lalu kamu punya banyak alternatif metode analisis. Lagipula kamu belum bicara dengan Herr Schwedt kan? Siapa tahu beliau punya saran untuk kasus seperti ini”
“Saya tidak mau ketemu dia dulu….. Nanti dia pikir seperti anak kecil saja sedikit punya masalah lapor, sedikit lapor lagi…..”
“Iya, tapi kamu kan belum pernah punya masalah seperti ini, artinya beliau kan belum pernah tahu keluhan kamu. Selama ini beliau puas dengan hasil kerjamu.” Aku belum luluh.
“Rasanya saya menyerah saja. Percuma saya kerja keras mencari gelar doktor sementara anak tidak terurus. Biar Bapak sajalah yang lanjut, toh tinggal selangkah lagi.”
“Apaa?? Kamu mau putuskan begitu saja. Kenapa bisa punya pikiran seperti itu?”
“Saya tidak sanggup. Bagaimana mungkin saya bisa kerja dengan tenang di laboratorium sementara anak kita masih sangat memerlukan perhatian ibunya, sebisa mungkin 24 jam sehari. Apa yang dikatakan orang-orang di Indonesia, masa saya lebih pentingkan studi dibandingkan anak. Apalagi kemarin dokter bilang pertambahan berat anak kita di bawah rata-rata normal.”
“Apa kamu lupa bagaimana beratnya perjuangan kamu untuk bisa dapatkan beasiswa ini, untuk bisa menyusul saya ke Jerman. Apa kamu juga mau menghancurkan harapan orangtuamu yang ingin sekali melihat keberhasilanmu sebagai doktor.“
“Tidak apa-apa. Saya di rumah saja asuh anak kita. Bapak saja yang lanjut sampai doktor.”
“Saya tidak ijinkan kamu berhenti begitu saja! Saya sudah sangat siap dengan keadaan seperti ini. Insya Allah tidak akan lama, semua bisa teratasi. Kita akan atasi masalah anak bersama-sama. Kenapa kamu tidak percaya?”
“Saya percaya tapi sebenarnya saya tidak kuat lagi.” Aku mulai melunak.
Istighfar, Meta. Tidak ada masalah yang tidak teratasi. Kita sama-sama mohon bantuan Allah. Mudah-mudahan kita diberi kemampuan untuk mengatasinya bersama. Kamu harus kuat. Biarkan orangtua kita bangga kepada kita. Biarkan anak kita bangga karena bisa mendampingi orangtuanya hingga jadi doktor di negeri orang. Sekarang kamu pergi sholat dzuhur dulu.” Aku mengakhiri sesi debat panjang dengan ber-istighfar selanjutnya pergi ke kamar mandi untuk berwudhu.
Aku bersimpuh di atas sajadah dengan derai air mata. Setelah itu semua terasa lapang, beban mulai berkurang. Meski hari-hari selanjutnya tidak serta merta aku bebas dari perasaan depresi, tapi Alhamdulillah aku bisa mengatasinya dengan baik.
            Aku sudah menyandang gelar doktor sekarang, tepatnya sejak 12 tahun yang lalu. Allah Maha Pemberi Segala Kenikmatan. Puji syukur kupanjatkan ke hadiratNya, yang telah memberiku pendamping hidup seperti suamiku yang selalu bisa mengajakku berjalan berdampingan dalam setiap langkah kehidupan. 

(diambil dari buku "Ketika Rasa Syukur Tak Pernah Habis Terucap", 2009, Penerbit Grafidia)