Minggu, 17 Juni 2012

TOUR DE JAVA : Merealisasikan mimpi melalui usaha, kerja keras dan doa (bagian pertama)

Selasa pagi tanggal 6 Maret 2012 merupakan momen awal yang membuat aku sadar bahwa rencana mahasiswa S2 Ilmu & Teknologi Pangan Unhas untuk study tour ke Jawa akhirnya jadi kenyataan. Pelepasan secara resmi oleh PD1, meskipun kesannya kurang “menggigit” karena hanya dihadiri oleh beliau dan aku sebagai dosen pendamping, sudah cukup punya kesan bagi mahasiswa-mahasiswaku. Aku berangkat paling awal hari itu, yaitu jam 11 pagi. Sebenarnya dua hari yang lalu salah seorang mahasiswa, Mariani, sudah ke Jawa terlebih dahulu karena ada keperluan lain. Rencananya ia akan menunggu kami di bandara Juanda, Surabaya.


Pelepasan rombongan oleh PD1 Faperta (minus 2 orang anggota rombongan)

Cuaca ternyata tidak terlalu mendukung karena mendung dan awan gelap di mana-mana, tapi syukurlah pesawat dapat mendarat dengan selamat setelah berputar-putar beberapa saat di atas bandara Juanda. Karena sudah menjadi keputusanku dan aku tiba pertama maka risiko menunggu berjam-jam di bandara sudah masuk dalam perhitungan schedule-ku hari itu. Kloter berikutnya baru tiba pukul 14 lewat. Masih menunggu lagi. Akhirnya kloter terakhir mendarat pukul 17 lewat.

Perjalanan pertama & belanja pertama
 
Rute pertama yang akan kami lalui adalah Surabaya-Malang. Dengan menggunakan dua mobil sewaan berkapasitas 7 orang, meluncurlah kami menuju kota Malang dengan berhenti untuk makan malam di sebuah rumah makan bernama Warung Santai. Menu yang disajikan secara prasmanan ternyata malah membuat kami kebingungan memilih, akhirnya bertanya kiri-kanan, “Itu makanan apa?” “Itu dibuat dari apa” “Kenapa porsinya segede gajah???” Ada tahu goreng berukuran jumbo, kemudian sejenis tumpi-tumpi yang dibuat dari daging (dipotong kasar) dengan kelapa parut dan dibentuk meliliti setangkai kayu/lidi, ya semacam tusuk sate. Ada pula campuran daging ayam dan tepung (yang pasti lebih banyak tepungnya dibandingkan ayamnya) kemudian dicetak semacam lontong besar dan dipotong serong lalu digoreng (aku mencoba mendeskripsikan cara pengolahannya dengan mengamati bentuknya). Apapun menu yang dipilihnya, yang penting semua bisa menikmati makan malam pertama di luar Makassar.


Tersedia berbagai jenis dari yang biasa sampai yang aneh


Dalam keadaan lapar semua terasa nikmat

Kami tiba di Malang pukul 21.30 dan menginap di rumah keluarga Fitrah di Omah Kampus, sebuah perumahan yang asri, sejuk dan tenang. Rumah tersebut hanya ditempati oleh dua orang pria yaitu saudara sepupu Fitrah, seorang telah lulus dan seorang lagi masih kuliah. Ketika rombongan kami tiba, kedua penghuni untuk sementara pindah tidur ke rumah tetangga. Salah seorang anggota rombongan yang merupakan lelaki satu-satunya, Wildan, ikut juga ke rumah tetangga sehingga rumah yang kami tempati serasa milik sendiri karena kami 11 orang wanita semua.

Kami belum melewati satu hari di Jawa, namun naluri wanita yang selalu ingin belanja sudah mulai nampak jelas. Bayangkan saja, di meja ruang tamu rumah itu tertata banyak boneka Shaun the Sheep yang dibuat oleh penghuni rumah. Selain itu ada juga ransel Shaun the Sheep. Segera saja boneka-boneka itu diserbu oleh anggota rombongan (termasuk aku). Laris maniiiiis. Jadilah boneka  Shaun the Sheep menjadi hasil belanja pertama kami.

Shaun the sheep sekeluarga

Akibat merasa gerah setelah perjalanan sepanjang hari itu, maka antrian pengguna kamar mandi menjadi panjang. Semua ingin segera mandi dan berganti pakaian bersih untuk kemudian tidur dan bermimpi indah. Setiba di rumah itu aku sudah sempat mencelupkan tangan ke dalam ember besar penampung air di kamar mandi. Yaa, hanya untuk mengecek seberapa dingin airnya. Setelah berpikir panjang akhirnya aku memutuskan ke dapur mencari panci untuk memasak air untuk mandi.

Trip to Batu

Kegiatan pertama kami pada karya wisata ini adalah kunjungan ke kota wisata Batu, tepatnya di CV Mitra Arjuna pimpinan ibu Ir. Luki Budiati yang berlokasi di Dusun Tulungrejo. Kami menyewa satu mobil minibus yang bisa memuat kami ber12. Sepanjang perjalanan menuju lokasi tujuan, tak henti-hentinya semua mahasiswa berdecak kagum melihat suasana desa yang sangat asri dan sejuk dengan pemandangan kebun buah, sayur dan bunga di mana-mana. Terlebih lagi saat sudah diterima oleh ibu Luki dan keluarganya yaitu suaminya, pak Syamsul, yang sangat kocak (meskipun kesan pertama seperti dosen yang galak) kemudian bu Elly, adik bu Luki, yang membantu menangani usaha-usaha pengolahan di situ seperti teh celup apel, ubi ungu beku, penyiapan benih bunga Sandersonia siap ekspor yang konon kabarnya merupakan satu-satunya di Indonesia.


Foto bersama di depan kantor CV Mitra Arjuna sebelum masuk


Aku bersama pengelola CV Mitra Arjuna



Secara umum usaha yang dilakukan CV Mitra Arjuna sangat beragam, sebagai gapoktan, selain tiga usaha yang sudah kusebutkan tadi. Yang utama sesungguhnya adalah penyediaan bunga-bunga segar untuk pesanan segala acara, demikian juga pemasok sayuran segar ke supermarket-supermarket bahkan sampai ke Makassar, pengolahan kripik jamur, pembuatan minuman sari buah aneka rasa. Untuk kripik jamur terdapat kerjasama saling menguntungkan antar kelompok petani. Kelompok petani yang satu membuat media pembibitan jamur tiram, kelompok lainnya membudidayakan jamur tiram dan kelompok lainnya mengolah jamur tiram tersebut menjadi kripik maupun nugget.


Jamur tiram siap panen


Olahan jamur tiram: kripik jamur dan nugget jamur


Foto bersama pak Joni Rahmat dan istrinya, pengolah jamur tiram


Pengemasan sari apel celup

Pelajaran berharga yang kami peroleh dari kunjungan ke Gapoktan tersebut adalah adanya usaha keras, tak kenal lelah dari pionir-pionir tersebut yang memulai semuanya dari nol, dari pekerjaan yang rendah sampai akhirnya bisa membuahkan sukses yang luar biasa. Berani mencoba hal-hal baru, itu pula prinsip yang mereka ajarkan kepada kami. Aku sempat malu ketika pak Syamsul menceritakan bahwa pendidikan mereka hanya S1 tapi ilmu dan pengalaman yang mereka miliki sudah mereka ajarkan sampai ke luar negeri, terutama Jepang. Sementara aku, untuk tingkat lokal saja masih terhitung biasa-biasa….


Penyerahan cindera mata, sebuah miniature kapal phinisi, kepada ibu Luki Budiarti

Refreshing pertama
Kami merasa puas dan kenyang di kota Batu, disuguhi kripik jamur, nugget jamur, bakso Malang, minuman sari buah, sampai akhirnya kami diberi dua kantong besar apel Malang, dua jenis yaitu apel Ana (yang berwarna merah) dan apel Manalagi (yang berwarna hijau). Selanjutnya perjalanan untuk refreshing pertama ke Jatim Park II, sebuah lokasi wisata berupa kebun binatang, museum satwa, hotel dan wahana permainan outdoor. Sebenarnya kami berniat langsung ke Yogya siang itu tapi sang sopir yang membawa kami berkilah lebih baik berangkat malam supaya tiba di Yogya subuh, karena jika berangkat siang atau sore akan  berpapasan dengan kendaraan besar seperti truk, bis, tronton. Secara logika sama saja, toh malam hari juga akan berpapasan dengan kendaraan-kendaraan sejenis itu, namun setelah kupikirkan lebih dalam lagi, akhirnya aku menemukan jawabannya (benar tidaknya aku tidak tahu karena tidak sempat menanyakan kepada sang sopir). Pada malam hari akan lebih jelas nampak kendaraan dari arah berlawanan karena menggunakan lampu sedangkan siang hari, karena suasana terang, tidak akan jelas nampak jika ada kendaraan dari arah berlawanan sebelum sang driver sendiri yang memiringkan kepalanya untuk “mengintip” ke depan.

Tampak depan Jatim Park II dengan Hotel Pohon Inn

Jatim Park II sudah seperti kebun binatang terkenal di luar negeri yang pernah kukunjungi yaitu Wilhelma di Stuttgart. Membanggakan juga jika di Indonesia sudah ada tempat-tempat seperti itu.  Namun aku tidak bisa berlama-lama di area itu karena harus segera keluar untuk menemui kawanku, mbak Hanny Handayani, dosen Universitas Muhammadiyah Malang, teman sesama reviewer PKM Dikti tahun 2007 yang lalu yang memang bermaksud menemui bersama suaminya, Warkoyo (teman seangkatanku saat kuliah di UGM) yang sudah menungguku di depan Reptil Garden. Sebagian mahasiswa memang sejak awal tidak berniat masuk ke arena museum namun hanya beristirahat di depan arena. Sebagian lagi, yang semula masuk bersamaku, masih betah berlama-lama di arena permainan outdoor.


Foto bersama di dalam “sangkar burung”


Berpose bersama Spongebob

Trip to Yogyakarta

Pukul 07.00 malam setelah menunaikan sholat maghrib, kami berangkat ke Yogya. Aku sempat tertidur sesaat dalam bis kecil itu, namun selanjutnya sama sekali tak bisa kupejamkan lagi mataku. Entah karena posisi duduk yang tidak pas dengan barang-barang bawaan yang kuletakkan di depanku atau karena aku tegang mengamati cara sang driver membawa mobil, yang dengan santai dan lincah melambung kendaraan-kendaraan besar di depannya. Aduuuuuh… semua itu membuat perutku melilit menahan ketegangan sementara semua mahasiswa yang duduk di kanan, depan dan belakang, tertidur pulas.

Pukul 5 pagi kami tiba di Yogya. Teringat lagu lama milik KLA Project: “Pulang ke kotaku…..” Kami diterima dengan baik dan ramah oleh penghuni asrama mahasiswa Sulsel yaitu wisma Latimojong. Letak asrama itu sangat dekat dengan kampus UGM, Bulaksumur. Jl. Cik di Tiro, jalanan yang setiap harinya kulalui dengan motor ketika aku kuliah di kota itu dulu.
 
Wisma Latimojong di Yogya

Suatu pelajaran berharga bagi mahasiswa yaitu membiasakan disiplin dan belajar menghargai waktu.  Apalagi ketika mereka mengetahui bahwa rombongan kami akan diterima di UKM di Yogya pada pukul 8 pagi. Jadi intinya adalah, kami hanya punya waktu kurang dari 3 jam untuk membenahi barang bawaan, membersihkan badan dan bersiap untuk memulai kunjungan. Suatu hal yang tidak mudah namun harus dilakukan. Alhamdulillah semua berjalan lancar, membenahi barang bawaan, mandi, sarapan bisa dikerjakan dengan seefisien mungkin.

Kami baru meninggalkan asrama pada pukul 8.45 karena menunggu wakil dari FTP yang akan mendampingi kami ke UKM yang dituju. Pak Sukiyo namanya. Aku merasa akrab dengan wajahnya, ternyata memang dulu beliau adalah pegawai perpustakaan FTP UGM pada masa perkuliahanku di sana. Berangkatlah kami menggunakan sebuah minibus menuju UKM. Dua UKM yang akan kami tuju adalah UKM tahu dan tempe milik pak Ngatijan di Imogiri dan UKM camilan tradisional geplak, wingko, yangko dan bakpia yang diberi nama usaha Geplak Jago milik ibu Fatimah di Bantul.


Berpose di depan tempe yang sedang difermentasi

UKM kedua yang membuat mahasiswa antusias karena produk yang diolah adalah makanan tradisional Jawa khususnya Yogyakarta yang cukup asing bagi mereka. Bangunan UKM tersebut memanjang ke belakang dan memuat semua lini produksi camilan dengan peralatan yang serba sederhana. Usaha tersebut merupakan usaha turun temurun sejak puluhan tahun silam.

Mengamati pembuatan geplak

Beberapa mahasiswa kulihat ikut serta membantu membungkus yangko dan wingko, namun sesekali mereka juga mencomot camilan itu dan memasukkannya ke dalam mulut sehingga mungkin kalau dihitung dari 5 produk yang dibungkus, satu di antaranya sebagai tester. Penerimaan yang ramah dari kedua UKM tersebut sangat berpengaruh terhadap semangat kami mengingat sebagian besar dari kami (tapi aku yakin semuanya) masih lelah dan mengantuk setelah perjalanan jauh dari Malang malam sebelumnya.

 Membantu mengemas wingko


Mengamati pembuatan bakpia

Sekali lagi, belajar disiplin dan menggunakan waktu sefektif mungkin adalah pelajaran berharga yang kami terapkan di sini. Kami harus memperhitungkan waktu karena pukul 13 kami akan diterima di FTP UGM, sehingga harus segera meninggalkan UKM camilan tradisional tersebut setelah memborong beberapa jenis produk. Sempat pula kami kembali ke asrama untuk sholat sebelum berangkat ke UGM. Oh ya, Fitrah selalu saja keliru menyebut geplak menjadi gaplek. Bahkan sampai perjalanan terakhir rute tour kami pun sebagian besar masih sulit menyebut dengan lancar geplak, wingko, yangko dan bakpia.


Berpose bersama bu Fatimah pemilik usaha Geplak Jago 

Kami diterima di FTP UGM oleh Wakil Dekan I bapak Bambang Purwantara, Ketua Jurusan TPHP bapak Muhammad Nur Cahyanto dan KPS Magister Ilmu dan Teknologi Pangan bapak Yudi Pranoto di ruang pertemuan fakultas. Pertemuan terasa kurang hidup saat sesi diskusi dan ini sempat membuatku kesal campur kasihan karena hanya 3 orang mahasiswa yang bertanya, itupun setelah berkali-kali dipersilakan bertanya. Sementara mahasiswa-mahasiswa yang lain hanya memandangiku dengan wajah yang kuyu, mengantuk dengan sorot mata 5 watt seakan memohon,”Buuu, sudah mi kodooong, jangan suruh kami bertanya.”


Sesaat setelah selesai pertemuan dengan pejabat-pejabat fakultas

Pertemuan ditutup dengan sesi foto bersama dan penyerahan cindera mata kapal pinisi dari pihak kami. Selanjutnya kami diantar oleh pak Yudi mengunjungi beberapa laboratorium FTP yang digunakan juga oleh mahasiswa S2. Di sana aku bertemu dengan seorang teknisi yang sudah bekerja puluhan tahun sejak aku masih mahasiswa. Mas Khaq, seorang teknisi yang memiliki dedikasi yang kuat, pribadi yang ramah, humoris dan sangat terbuka. Di depan mas Khaq aku sempat bercerita kepada mahasiswa bahwa dulu ketika beliau akan memiliki anak pertama, kami, co-asisten praktikum berusaha membantunya mencarikan nama bayi dari buku Daftar Bahan Kimia. Di laboratorium itu juga aku bertemu dengan adik kelasku pada masa kuliah dulu, Sita, yang saat ini sedang mengambil doktor di FTP UGM.

Begitu banyak kenangan di FTP UGM yang membuatku enggan beranjak dari tempat itu sebelum bertemu dengan dosen-dosenku dulu. Adalah pak Darmanto, yang cukup akrab dengan kami, mahasiswa-mahasiswanya yang sering berada di Laboratorium Latihan, saat menjadi co-asisten maupun saat melakukan penelitian. Saat itu beliau sering mengajak putri bungsunya yang masih TK, Chacha, ke laboratorium sehingga menjadi hiburan tersendiri bagi kami. Memang sebelumnya beliau sempat ku-sms saat sedang pertemuan di fakultas. Selain dengan beliau (kami sempat berfoto bersama mahasiswa-mahasiswaku) aku sempat bertemu pula dengan dosen-dosenku yang lain pak Umar Santoso, pak Supriyanto, bu Agnes Murdiati, bu Sri Kanoni, bu Indyah Sulistyo Utami. Aku agak kecewa karena tidak bisa bertemu dengan dosen pembimbingku pak Sutardi, yang juga kawan seangkatan bu Elly Ishak, kolega dan seniorku di ITP Unhas, saat di Australia dulu. Beliau baru saja meninggalkan kampus saat rombongan kami tiba di FTP. Di jalan keluar, aku bertemu dengan mas Sri Raharjo, kakak kelasku dulu yang baru kukenal setelah aku menjadi dosen dan sering mengikuti seminar di mana-mana. Beliau juga yang menjadi asesor di Program Studi THP Unhas pada saat akreditasi tahun 2006 yang lalu.




Bersama pak Darmanto di depan ruang kerja beliau

Sore itu, dalam perjalanan pulang ke asrama kami singgah makan di rumah makan seafood Numani. Namanya cukup asing di telinga, namun setelah kutelaah lebih dalam  kemungkinan besar berasal dari kata tuman yang artinya addicted atau ketagihan. Sehingga arti kata numani adalah membuat ketagihan. Hahaha….mudah-mudahan benar dan pengetahuan bahasa Jawaku masih oke. Kami kembali ke asrama dengan perut kenyang karena sudah merapel makan siang dan makan malam.

Suasana di asrama cukup menyenangkan karena para penghuninya ramah dan welcome terhadap kami. Bahkan malam itu mereka membuat acara perkenalan dengan kami dalam suasana akrab, duduk di lantai. Aku sebagai yang tertua dan dituakan di rombongan (bukan hanya karena bermutu=bermuka tua) berkesempatan menyampaikan terimakasih kepada mereka yang bersedia menerima kami dengan tangan terbuka dan termasuk kesediaan sebagian penghuni asrama untuk menyingkir sementara karena kamarnya kami tempati.

Pukul 22.30 malam itu aku merasa kelaparan dan membutuhkan sesuatu yang panas berkuah karena perutku mulai berulah. Ditemani Rosdiani aku memasuki warung mie dok-dok tak jauh dari asrama. Alhamdulillah…..masalah perut sudah teratasi dan pasti bisa membuatku tidur nyenyak malam itu.

Maaf ya Borobudur, aku tak mengunjungimu…

Sejak awal, memang mahasiswa-mahasiswaku berniat mengunjungi Borobudur pada hari kedua kami di Yogya. Dan sejak awal pula aku memutuskan untuk tidak ikut ke Borobudur karena ingin bersilaturahmi sekaligus istirahat di rumah tanteku, ibu Harningsih, adik bungsu ayahku, di daerah Condong Catur, Sleman. Pagi-pagi, kami (aku, Nunung, Fitrah, Iin, Nadirah dan Wildan) ke kampus UGM, menikmati suasana Balairung di saat aktivitas kampus baru saja dimulai. Sebenarnya aku juga berniat bertemu dengan pak Sutardi, pembimbingku, karena beliau mengajar pagi sampai jam 8 lewat. Kenangan akan Balairung kembali terbayang di pelupuk mata. Saat aku masih SMP dan menikmati liburan kenaikan kelas ke Yogya, aku sempat berfoto di depan Balairung dan foto itu masih tersimpan sampai sekarang di rumah ibuku di Bogor. Kemegahan pilar-pilarnya membuatku terkagum-kagum dan berangan-angan untuk kuliah di UGM kelak. Angan-anganku akhinya jadi kenyataan. Kemudian terbayang kegiatan rutin Minggu pagiku bersama teman-teman kuliah berolahraga di Balairung.

 Balairung yang penuh kenangan

Yang paling berkesan adalah bemain sepatu roda di sana. Sepatu roda yang kumiliki sejak masih SD ternyata masih bisa dipakai sampai aku dewasa karena desainnya yang memang khusus dan bisa diperbesar sampai ukuran tertentu. Teman-teman kuliahku bergantian menggunakan sepatu roda itu, bahkan ada seorang teman yang dengan sangat percaya diri memberikan petunjuk berupa teori-teori agar bisa bermain sepatu roda dengan baik, meskipun ia sendiri belum pernah menggunakannya. Nah, ketika ia harus mempraktekkan teorinya tersebut, baru melangkah dua meter seketika ia terjerembab dengan posisi yang sangat aneh. Kontan meledaklah tawa kami semua. Di Balairung pula aku diwisuda sebagai Sarjana Teknologi Pertanian bulan Agustus 1990.

Lamunanku tentang Balairung terhenti ketika sms dari pak Tardi masuk yang mengatakan bahwa beliau sudah selesai mengajar. Kebetulan letak FTP UGM dan Balairung bersebelahan. Aku berpisah dengan mahasiswa-mahasiswaku di depan Balairung. Pertemuan dengan pak Tardi semakin menguatkan keyakinanku bahwa hubungan baik antara mahasiswa dan dosen-dosennya terutama dosen pembimbing harus terus dijaga sampai kapanpun karena tanpa mereka kita tidak akan jadi seperti sekarang ini. Aku teringat nostalgia saat penelitian dulu dan hal itu kusampaikan juga kepada pak Tardi. Waktu itu kami, mahasiswa yang mengerjakan proyek Hitachi di bawah bimbingan pak Tardi dan almarhum pak Tranggono sering kerja lembur di Laboratorium Latihan. Pak Tardi meminjamkan kunci laboratorium kepada kami termasuk kunci ruangan kerjanya. Kami tim Hitachi terdiri dari 6 mahasiswa yang terbagi menjadi 3 tema penelitian. Aku bekerja satu tema dengan sahabatku, Hartuti, yang menjadi manager produksi di PT Indofood Sukses Makmur divisi noodles Ancol. Keusilan kami di masa lalu nampak jelas, ketika dengan kunci itu kami masuk ke ruangan beliau, tidak untuk mengambil bahan kimia yang disimpan di situ tapi untuk membuka buku-buku, foto-foto dan arsip-arsip beliau, layaknya detektif yang mencari barang bukti. Akhirnya kami mengeluarkan kipas angin besar dari ruangan beliau karena merasa kegerahan kerja di laboratorium malam itu. Keesokan harinya pak Tardi memanggil laboran dan mengatakan bahwa kipas angin di ruangannya hilang. Paniklah kami yang semalam lupa mengembalikan kipas angin ke ruangan beliau. Dengan menggotong kembali kipas angin tersebut ke dalam ruangan kerja beliau, kami minta maaf karena telah sempat “menghilangkannya”. Beliau bukan tipe orang yang mudah marah, bahkan rasanya aku belum pernah mendapat marah darinya. Pernah suatu kali beliau mengumpulkan seluruh anggota tim proyek Hitachi termasuk dua orang laboran. Entah mengapa pagi itu aku lupa akan jadwal pertemuan tersebut sehingga aku terlambat datang. Aku ragu-ragu untuk masuk ke dalam laboratorium apalagi ketika kudengar pak Tardi bersuara agak keras dan menegur semua anggota tim. Akhirnya aku memutuskan untuk menunggu saja di luar. Setelah pertemuan selesai, teman-temanku menyerbuku dan protes karena aku terlambat datang dan tidak masuk tadi. Dengan tenang kujawab,”Yang penting aku tidak kena marah…. horee!” Semakin kesallah mereka. 


Bersama pak Sutardi

Ketika aku mohon pamit kepada pak Tardi untuk mengunjungi tante di Condong Catur, beliau seketika menawarkan untuk mengantarku. Kebetulan beliau pernah tinggal di daerah itu. Di tempat parkir, aku bertemu dengan pak Suparmo, dosenku yang ketika aku sudah menjadi dosen sempat menjadi kolega di PKMT (Pusat Kajian Makanan Tradisional) yang dulu secara rutin mengadakan pertemuan secara nasional. Akhirnya aku sampai juga ke rumah tante. Uniknya, pak Tardi seakan bernostalgia juga dengan daerah itu karena ternyata beliau juga mengenal almarhum suami tante, alumni Teknik Arsitektur UGM yang pernah kerja di kantor PU. Kemudian, ternyata putra tante seangkatan sewaktu di SMA dengan putra pak Tardi dan mereka dulu bersekolah di sebuah SMA di mana istri pak Tardi mengajar di situ. Wah, rumit juga…. Oh ya, meskipun hanya sekitar 3 jam aku berada di rumah tante, namun banyak hal yang baru kuketahui yang memantapkan keyakinanku bahwa jiwa seni yang melekat dalam diriku, kakakku, anak-anakku, dan anak-anak kakakku sebagian besar berasal dari keluarga ayahku. Tante Harningsih dulunya adalah anggota paduan suara UGM yang juga seorang penari Jawa, putra keduanya sempat bekerja di sekolah music Purwacaraka dan sekarang membuka usaha kursus music di rumahnya, kemudian putri bungsu tante juga pandai menari dan lebih banyak menekuni dunia model. Aku jadi teringat kedua putra kakakku di Bogor. Si sulung yang piawai memainkan gitar aktif di sebuah band sejak SMA dan sekarang band di fakultasnya di UI. Adiknya pun sudah mulai pandai bermain gitar. Sedangkan anak-anakku, belum nampak jelas bakat seninya, hanya si bungsu yang suka menari, fashion show dan camera maniac. Ibunya bagaimana yaa….?


Aku dan tante Harningsih

Pukul 13 lewat aku meninggalkan rumah tante, diantar oleh saudara sepupuku, menuju Malioboro, lokasi di mana aku dan rombongan mahasiswa akan bertemu nantinya untuk kembali ke wisma bersama-sama. Ketika kudengar mahasiswa-mahasiswa ingin berbelanja batik dan sejenisnya di Pasar Beringharjo, aku sudah memutuskan untuk tinggal saja berlama-lama di toko Mirota Batik, seberang pasar tersebut. Toko yang menjual aneka barang tradisional, mulai dari kain dan baju batik, souvenir tradisional, wayang, aneka tas, dompet, sandal dari batik sampai kosmetik tradisional seperti bedak, lulur dan lain-lain yang dibuat dari bahan alami. Toko Mirota Batik sudah berkembang demikian pesat, dari yang semula hanya satu lantai sekarang menjadi dua lantai, ditambah lantai ketiga untuk tempat pertemuan atau ekspose hal-hal yang berkaitan dengan seni dan budaya. Suatu hal yang unik baru saja kusadari setelah mendengar komentar dari beberapa mahasiswa. Selama ini aku tak pernah menganggapnya suatu hal yang lain dari biasa. Jika kita memasuki toko-toko maupun pasar swalayan, tentunya kita akan disambut oleh wanita-wanita cantik dan menarik yang dengan senyum manisnya mempersilakan para pengunjung masuk. Di toko Mirota Batik yang terjadi adalah sebaliknya karena yang akan menyambut kita adalah dua orang nenek-nenek berbusana kebaya Jawa yang sangat jauh dari kesan cantik (sayangnya aku tak punya dokumentasinya). Tapi di situlah letak daya tariknya. Kira-kira, apa ada ya toko di Makassar yang berani menerapkan cara seperti itu?

Banduuung….we are coming!
bersambung, sabar yaaaa……………

Kamis, 20 Oktober 2011

FROM VILLAGE TO VILLAGE (an extraordinary travel)

Alhamdulillah, akhirnya bisa juga kuselesaikan my special diary ini, sebenarnya sudah out of date tapi karena sejak awal sudah kuniatkan yaa haruslah kurampungkan tulisan tentang liburan Lebaran tahun ini. Viel Spass beim Lesen!!

Lebaran Tanpa Ketupat
     
     Lebaran kali ini mempunyai kesan yang luar biasa bagi keluargaku, terutama bagiku. Pertama, Lebaran tanpa ketupat. Bagaimana tidak, aku bisa melupakan tradisi membuat ketupat untuk teman makan kari ayam. Biasanya ibu mertuakulah yang membuatkan aku selongsong ketupat dari daun pandan yang tumbuh di halaman belakang rumahku, atau membelikanku selongsong ketupat di pasar. Kali ini beliau absen melakukan hal tersebut karena sedang menjalankan ibadah umroh Ramadhan di tanah suci. Dan herannya, aku tidak mengingatnya sama sekali. Baru setelah sehari menjelang Hari Raya Idul Fitri, aku kebingungan. Karena aku tak sempat ke pasar mencari selongsong ketupat, apalagi kalau harus membuatnya sendiri, terus terang aku tak sanggup, maka biarlah tak ada ketupat kali ini, begitu pikirku. (Aku ingat, sewaktu kecil dulu beberapa kali diajari oleh ayahku membuat selongsong ketupat, tapi tak juga bisa, akhirnya aku menyerah dan tak mau mencobanya lagi sampai sekarang). Sehari menjelang Lebaran, aku disibukkan dengan membereskan rumah dan membuat kue kering coklat dan brownies, keduanya sudah menjadi tradisiku sejak berkeluarga. Kue-kue kering lainnya aku pesan dari kerabatku yang pandai membuat kue. Cerita tentang Lebaran yang absen dari ketupat untungnya tidak berlanjut. Alhamdulillah kami mendapat kiriman buras berukuran tabung sebesar lengan, sebanyak 7 buah, dari ibu tukang cuci di rumahku. Kesan luar biasa lainnya silakan disimak ya dari ceritaku berikut ini.

Mudik Penuh Kesan

     Hari pertama dan kedua Lebaran kami lewatkan di rumah sekaligus persiapan untuk pulang ke desa suami di Enrekang pada hari berikutnya. Kebetulan suamiku mendapat undangan untuk memberikan ceramah tentang pendidikan berkualitas pada acara halal bihalal yang dirangkaikan dengan Seminar Pendidikan di desa Buttubatu. Meskipun demikian, acara inti di Enrekang ini sengaja kami plotkan pada hari terakhir kunjungan ke Enrekang. Perjalanan ke Enrekang dimulai pada hari Rabu tanggal 1 September pukul 08.00 pagi. Sayangnya anak pertama kami, Fadhil, tidak bisa ikut karena ada kegiatan bersama remaja mesjid Ikhtiar di Barru pada hari Jumat sampai Minggu. Tidak apa-apalah, mudah-mudahan ia memperoleh pengalaman yang menarik juga di sana. Biasanya jarak Makassar – Enrekang dapat ditempuh paling singkat 6 jam, namun kami tak mau terburu-buru dan menjalaninya dengan santai. Beberapa kali kami singgah di kota-kota yang kami lalui, singgah makan siang, sholat atau sekedar istirahat mencari angin. Pukul 17.00 kami tiba di kota Enrekang dan menginap di rumah salah satu keluarga di sana, sebuah rumah panggung, seperti sebagian besar rumah di situ. Seperti biasanya, anak-anak sangat terkesan dengan rumah panggung, bahkan aku sudah lama menyimpan angan-angan memiliki rumah panggung yang unik dan artistic di luar kota Makassar.
Esok paginya pukul 8.00 kami melanjutkan perjalanan ke desa Tungka, salah satu desa tempat tinggal suamiku di masa kecil dulu, selain desa Galung, tetangganya. Kami tidak menginap di sana, hanya bersilaturahmi dari satu rumah keluarga ke rumah keluarga yang lain. Di situlah anak-anak mulai berbisik-bisik,”Kenapa kita kerjanya makan terus….” Ketika singgah di rumah nenek Malla, nenek dari suamiku, mulailah beliau mengangkut barang-barang di rumahnya masuk ke mobil kami, ada kacang tanah mentah, langsat, kue-kue Lebaran….. sementara barang-barang di mobil kami yang sedianya untuk oleh-oleh belum banyak berkurang karena masih banyak tempat/rumah yang akan kami singgahi.
     Perjalanan selanjutnya adalah menuju ke desa Pekalobean di kecamatan Cakke lokasi tempat tinggal Ipa, pengasuh anak kami. Sungguh menakjubkan karena berada di lereng gunung dan suasana pedesaan benar-benar terasa dengan pohon-pohon, jalanan setapak, sungai-sungai, bahkan perkebunan sayuran berada di mana-mana, mulai dari bawang merah, kol, lombok, tomat, wortel. Karena jalanan yang menanjak terus membuat mesin mobil kami panas dan ban mobil kiri belakang melemah alias agak kempes. Ternyata salah satu penyebabnya adalah tumpukan koper yang kami letakkan di bagian belakang kiri. Kami sempat berjalan kaki menuju desa tersebut kira-kira 500m sementara mobil kami beristirahat dulu. Setelah setengah jam berlalu suamiku berhasil membawa mobil naik ke desa.


Ketika kita mulai kehilangan nilai-nilai kebersamaan, gotong-royong dan tenggang rasa, maka di desa nilai-nilai tersebut dapat kita rasakan di mana-mana. Sebuah contoh kecil..... mobil kami terparkir di halaman sebuah rumah sementara rumah Ipa masih masuk ke dalam melalui jalan setapak. Memang kami tidak menurunkan semua barang bawaan kami, hanya yang diperlukan saja karena toh kalau memerlukan sesuatu kami bisa saja menuju ke mobil dan mengambilnya. Setelah kesekian kali ke mobil mengambil barang yang diperlukan, suamiku secara tak sengaja meninggalkan kunci di dalam mobil yang terkunci dari luar. Alhasil berbagai usaha pun dilakukan oleh suamiku dan anakku yang kedua, Raihan. Yang mengagumkan dan mengejutkan adalah ketika warga desa berbondong-bondong dari segala penjuru mendatangi mobil kami dan berusaha membantu mengeluarkan kunci dari dalam mobil. Anakku menganggapnya luar biasa karena belum pernah mengalami hal tersebut.





Naik-naik ke Puncak Gunung......
   
     Rumah Ipa seperti halnya rumah-rumah di pedesaan, berupa rumah panggung. Model dan ukurannya bermacam-macam. Kebetulan rumah Ipa termasuk rumah tua yang sederhana, yang bergoyang-goyang ketika angin kencang berhembus. Sungguh mengasyikkan. Hebatnya, anak-anakku sangat excited dengan kondisi tersebut. Tak ada waktu untuk berdiam diri karena sore itu juga kami beramai-ramai hiking ke gunung. Jalanan berbatu-batu menanjak ke lereng gunung juga dilalui mobil bak terbuka yang mengangkut sayuran pasca panen. Di desa yang berbatu-batu tersebut ternyata sangat subur ditanami sayuran. Penduduk mendapatkan mata air di pegunungan yang kemudian dibuatlah saluran air untuk mengairi kebun-kebun sayuran. Sepanjang mata memandang terhampar kebun bawang, lombok, wortel, kol. Bahkan kami sempat mendapatkan seikat wortel yang dicabut langsung dari tanah.


     Setiba di atas gunung (hehehe....ini baru gunung yang letaknya di bawah, kami tidak naik ke puncak yang paling tinggi), karena sudah pukul 17.00 kami memutuskan untuk turun kembali. Ternyata kami tidak kembali melalui jalan semula, namun melalui jalan pintas yang hanya berupa jalan setapak di tepi tebing terjal. Nun jauh di bawah terhampar kebun sayur. Seandainya kami terpeleset jatuh ke bawah, bisa jadi kami terguling-guling di kebun sayur. Seandainya ada kebun bayam tentu kami bisa langsung makan bayam dan kuat bak Popeye jadi tak perlu kuatir terpeleset. Pengalaman yang sangat seru buatku dan terutama buat anak-anak karena mereka sangat menikmati perjalanan sore itu.

Rumah Penuh Bawang

     Fika, putri bungsuku tidak suka bawang, baik bawang merah maupun bawang putih. Apalagi kalau ayahnya baru saja mengkonsumsi bawang tak akan mau ia berdekatan dengan ayahnya. Biasanya saat flu atau sakit tenggorokan suamiku mengunyah bawang mentah yang memang berefek luar biasa bagi kesembuhannya. Saat di desa pun sesungguhnya suamiku sedang flu sehingga hari itu kembali ia mengunyah bawang merah mentah. Alhasil Fika selalu berteriak, “Bapak pindaaaaah, bau bawaang!” Ya sudah, sang ayah mengalah. Tapi sebentar-sebentar ia masih meminta ayahnya menjauh meskipun sebenarnya posisinya sudah jauh. Aku berkata pelan kepada Fika,”Fika, di mana-mana pasti bau bawang, lihat tuh di bawah rumah!” Di bawah rumah panggung tersebut tergantung berderet-deret bawang merah yang akan dijadikan bibit untuk ditanam. Langsung saja Fika semakin kencang berteriak,” Kasih pindah semua bawaaang!!” Waduuh, kalau di rumah orang seperti ini mana bisa seenaknya… (Tapi Fika akan bertingkah seperti itu kalau kelelahan dan ngantuk. Untungnya bawang hanya jadi masalah saat ia mengantuk. Esoknya melihat bawang ia sudah tak rewel lagi.)
Sebelum tidur pun ia mulai rewel. Anak itu memang tak tahan panas. Di kamarnya di Makassar, meskipun sudah dipasangi AC tetap saja ia minta dikipas-kipas, sehingga aku pernah berkomentar,”Fika cocoknya tinggal di luar negeri yang dingin.” Dan oleh kakak-kakaknya disambung lagi,”Dia paling cocok tinggal di kutub Utara sama orang-orang Eskimo dan pinguin.” Nah, di desa pun ia rewel dan berkata,”Kenapa di sini tidak ada AC nya, panaas, panaaas.” Akhirnya ia tidur tanpa mengenakan baju, hanya celana panjang tipis. Menjelang malam baru terasa dinginnya udara pegunungan, sampai Fika ngompol dan membasahi kasur busa, seprei dan selimut yang dipakainya.



Tak jadi berenang di sungai, di bak mandi pun bolehlah…
     Sejak dari Makassar, anak-anak sangat excited membayangkan akan berenang di sungai di desa seperti saat Idul Adha tahun lalu. Oleh karena itu pakaian renang sudah mereka siapkan jauh-jauh hari sebelum berangkat. Sampai hari kedua di desa, meskipun kami pindah dari desa ke desa, belum juga terealisasi berenang di sungai. Si kecil sudah mulai cemberut setiap melihat baju renangnya masih terlipat di koper. Pada hari ke tiga dari desa Pekalobean kami menuju ke Villa Bambapuang yang letaknya di seberang pegunungan Bambapuang. Pemandangan yang sangat menarik adalah pegunungan yang tampak jelas di depan mata dan berkabut ketika subuh sampai pagi. Seakan-akan, kalau kita menggunakan kacamata 3 dimensi, gunung-gunung tersebut bisa dijangkau dengan tangan. Namun yang paling berkesan bagi anak-anak terutama si bungsu adalah adanya bathtub (bak mandi) yang besar di kamar mandi villa. Segeralah ia minta izin untuk berenang (tepatnya berendam) di dalam bathtub di dalam kamar dengan mengenakan baju renangnya. Alhamdulillah, akhirnya baju renangnya dimanfaatkan juga.





Berbagi di Seminar Pendidikan di Desa Buttubatu

     Semalam di Villa Bambapuang sangat menyenangkan. Terutama ruangan di dalam kamar yang sangat luas dengan beberapa tempat tidur yang menurutku bisa menampung sampai sepuluh orang. Keesokan harinya kami harus meninggalkan villa pagi-pagi bahkan tak sempat sarapan. Ya, karena hidangan makan pagi belum juga siap akhirnya kami minta dimasukkan saja ke dalam Tupperware yang kami bawa dari rumah. Karena bekas pakai, maka kami cuci terlebih dahulu wadah-wadah tadi dengan air dan sabun yang ada di villa sebelum dimasukkan nasi goreng, menu sarapan villa, ke dalamnya. Anak-anak sempat sarapan sedikit di mobil. Perjalanan kami dari Villa Bambapuang menuju desa Buttubatu, namun sebelumnya singgah di desa Papi menjemput keluarga yang akan mengantar kami ke Buttubatu. Di desa Buttubatu itu, suamiku diminta untuk memberikan materi tentang Pendidikan Berkualitas di depan guru-guru di desa itu. Malam sebelumnya, suamiku di-sms oleh panitia dan menanyakan kesediaanku untuk juga memberikan materi. Wah…….mana bisa aku menyiapkan materi dalam waktu sesingkat itu. Tapi setelah diskusi dengan suamiku, akhirnya aku menyanggupi memberikan materi singkat tentang Tips-tips Praktis Meraih Sukses …..kalau itu sih tidak perlu persiapan, berdasarkan pengalaman pribadi dan pengalaman orang lain yang bisa kuingat-ingat saja.



Perjalanan ke Buttubatu ternyata tidak semudah yang kami pikir. Memang jalanannya menanjak tapi seandainya semalam tidak hujan, mungkin mobil Xenia kami tidak akan kesulitan melewatinya. Pada sepotong jalan yang rusak nampak agak berlumpur, nah di situlah masalah terjadi. Mobil yang kami tumpangi ngambeg, tidak mau jalan terus, tetapi memilih mundur terus. Setelah tiga kali berulang, akhirnya suamiku memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan. Kami kembali ke desa Papi, di rumah keluarga kami. Suamiku menelpon panitia di Buttubatu dan menyampaikan keadaan kami saat itu. Akhirnya panitia mengatakan akan menjemput kami. Suamiku memilih membonceng motor seorang kenalan dari Papi, sementara ia memintaku menunggu kendaraan yang menjemputku. Anak-anak kupikir lebih aman tinggal di desa Papi saja toh mereka pasti tak akan sabar menunggu kami ceramah.
Ternyata aku dijemput dengan mobil. Semula aku ragu-ragu karena kemungkinan akan mengalami hal yang sama dengan Xenia kami tadi. Tapi mereka meyakinkan bahwa itu adalah mobil angkutan umum yang biasanya pergi-pulang ke Buttubatu. Ooh iya, Panther. Berangkatlah aku dengan tenang. Tapi kenyataan berkata lain. Kami harus mengalami hal yang sama seperti yang dialami Xenia kami. Aku sampai berkata,”Saya turun saja ya, biar saya jalan kaki sampai jalan yang agak baik.” Mereka mencegahku. Kami tetap di dalam mobil dan mengalami mundurnya mobil sampai 3 kali. Perutku terasa kaku menahan ketegangan. Syukurlah akhirnya kami berhasil melalui jalanan yang bermasalah tersebut.
Seminar yang rencananya dimulai pukul 9.00 harus molor sampai 10.30. Pikiranku hanya tertuju pada anak-anak yang tadi sudah berpesan agar kami tidak lama-lama di Buttubatu. Mudah-mudahan mereka bisa mengerti. Acara seminar yang diadakan di SDN 42 Buttubatu berlangsung dengan baik dan diskusi berjalan dengan lancar. Sambutan warga sangat hangat dan antusiasme mereka dalam diskusi cukup besar. Pada kesempatan itu Kepala Dinas Diknas kabupaten Enrekang juga hadir menyampaikan materi. Ternyata peserta seminar bukan guru-guru seperti yang kami ketahui sebelumnya, tapi warga setempat, kepala sekolah dan sebagian mahasiswa yang berasal dari desa tersebut. Tak apalah, yang penting materi yang kami berikan bisa sampai kepada mereka dan dipahami dengan baik. Syukur-syukur bisa diterapkan nantinya.

Bergoyang-goyang di atas jembatan gantung
   
     Pukul 14.30 baru kami meninggalkan Buttubatu, menjemput anak-anak di Papi lalu melanjutkan perjalanan ke desa Galung. Mengingat ban mobil kami bermasalah sejak di desa Pekalobean maka kami khusus mencari bengkel untuk memompa dan mengganti ban. Perjalanan ke Galung kami tempuh melalui arah lain. Kalau pada saat idul Adha 1431 yang lalu kami ke Galung melalui desa Tungka, sekarang kami melalui desa Temban. Uniknya adalah, mobil melewati sebuah jembatan gantung yang bergoyang-goyang. Sebenarnya jembatan serupa juga ada antara desa Tungka dan desa Galung, namun bedanya, di sana jembatan hanya cukup dilalui oleh orang yang berjalan kaki atau motor, okelah…dua motor yang berpapasan masih bisa melalui jembatan tersebut. Tapi jembatan gantung di antara desa Temban dan desa Galung dapat dilalui oleh mobil namun hanya berukuran satu mobil, sehingga seseorang harus mau bertindak sebagai penjaga di ujung jembatan untuk menghentikan mobil lain atau motor yang akan lewat sebelum mobil yang sudah ada di jembatan lewat dengan lancar. Alhasil itulah yang kami lakukan saat itu.




     Saat itu kondisi Raihan tidak terlalu baik. Sejak perjalanan menuju Papi pagi tadi ia sudah mengeluh sakit perut dan sakit kepala, tapi kami hanya menganggapnya biasa karena melewati jalan yang berkelok-kelok. Dalam perjalanan ke desa Galung, ia lebih banyak berbaring di mobil. Sehingga ketika melewati jembatan gantung, aku, Fauzi dan Fika turun dari mobil dan berjalan duluan untuk menghentikan mobil atau motor yang akan lewat. Anak-anak sangat menikmati hal tersebut.
     Sesampai di desa Galung, waktu sudah menunjukkan pukul 17.00. Kondisi Raihan ternyata tidak lebih baik. Ia muntah-muntah dan demam. Sibuklah kami dan keluarga yang kami datangi, menyiapkan teh panas dan makanan untuk Raihan. Namanya juga orang sakit, mana ada makanan yang enak. Semalaman aku juga mengalami sakit kepala tapi bagiku itu hal yang biasa karena aku memang sering mengalami mabuk perjalanan, sakit kepala masih tergolong ringan, yang parah kalau sampai muntah-muntah. Namun kukira untuk Raihan bukanlah hal yang biasa karena malam harinya ia mengalami diare.

Pulaaaang……..

     Keesokan harinya kami sudah bersiap-siap untuk kembali ke Makassar, tapi sebelumnya kami perlu bersilaturahmi ke rumah keluarga-keluarga di Galung. Karena masih dalam suasana idul Fitri tentunya tidak bisa dihindari setiap berkunjung ke rumah keluarga kami disuguhi minuman dan kue-kue, sampai anak-anak kembali berbisik,”Kenapa kita kerjanya makan terus di desa…..”
     Rumah yang kami tinggali di Galung letaknya tepat di sisi lapangan luas sehingga pandangan kita seakan lepas bebas. Di sisi lain berdiri SDN 139 Galung, tempat suamiku bersekolah dulu. Konon kabarnya ketika SD dulu ia dan teman-temannya harus menimba air dan membawanya dengan ember untuk menyiram lantai kelas mereka yang terbuat dari tanah untuk menghindari debu yang beterbangan. Wah, tentunya lantainya jadi agak becek ya. Kondisi sekolah tersebut sudah jauh lebih baik saat ini, sama dengan sekolah-sekolah lain pada umumnya.
     Aku ingat pernah berkata pada anak-anakku yang merasa tak punya ruang gerak di dalam mobil,”Tenang saja, nanti sesudah dari desa pasti barang-barang kita berkurang, kan sudah dibagi-bagi di desa, jadi kalian bisa lebih bebas bergerak di mobil.” Kenyataannya tidaklah demikian. Di desa terakhir yang kami kunjungi bahkan paling banyak kami diberi buah tangan yang ukurannya tidak tanggung-tanggung seperti beras satu karung, kelapa muda beberapa butir, sampai ayam jago. Hal itu bisa terjadi karena suamiku berkata bahwa ia ingin memiliki ayam di rumah agar suasana rumah lebih hidup khususnya ada yang membangunkan saat subuh. Ia lupa di rumah sudah ada kucing, ikan, kura-kura, bahkan tokek yang bersembunyi di kamar mandi dan kecoa yang kadang muncul pada malam hari…… Anak-anakku mulai gelisah ketika melihat seekor ayam jago mulai di”kemas” di dalam kardus yang dilubangi. Mereka protes,”Kenapa harus bawa ayam segala, bagaimana di mobil nantinya, kasihan dia, nanti sudah bernafas, tidak bisa bergerak……” Tapi menurut suamiku mereka sudah biasa membawa ayam dalam perjalanan ke luar kota, jadi “kemasan”nya juga khusus. Ketika suamiku masih akan berbincang-bincang dengan keluarga pemilik rumah, anak-anakku semakin gelisah. Raihan akhirnya berucap,”Sudah bapak, jangan lama-lama di sini. Semakin lama kita tinggal bisa-bisa kita dibawain kambing….”
     Pukul 10 kami meninggalkan Galung. Go home! Kami excited membayangkan akan melewati jembatan gantung lagi. Karena kondisi Raihan sudah lebih baik dibandingkan ketika tiba di Galung sehari sebelumnya, maka kami berbagi tugas. Aku, Fauzi dan Fika turun dan berjalan terlebih dahulu untuk menghentikan kendaraan yang akan lewat, sedangkan Raihan turun juga, tapi ia berada di belakang mobil, tepatnya di bawah jembatan untuk memotret mobil saat berada di atas jembatan. Aku pun memotret dari sisi depan. Proses pendokumentasian tuntas sudah. Kami masih akan berfoto di jembatan gantung kalau Raihan tidak mengeluh sakit perut lagi. Ternyata sesungguhnya ia belum sehat benar.

     Perjalanan pulang ke rumah terasa lebih lama karena di kota Enrekang kami masih mampir ke rumah keluarga yang kosong pada saat kami tiba beberapa hari yang lalu. Ternyata mereka berada di rumah keluarga yang lainnya yang sedang punya hajatan menikahkan anaknya. Akhirnya kami tiba di rumah tersebut. Meskipun tadi sudah sarapan di Galung, tak pantaslah kami menolak ditawari makan di rumah tersebut, apalagi mereka akan punya hajatan. Kami makan meski hanya sedikit, tapi Raihan sama sekali tak bisa makan. Satu peristiwa unik terjadi di rumah keluarga tersebut. Karena di dalam rumah terasa gerah, maka kami pindah ke teras depan yang berangin dan menikmati makanan kami di situ. Dari teras kemudian tercium aroma masakan yang dibuat di dalam rumah. Aku tak tahu apa itu, tapi lucunya, Fika langsung berkomentar dengan suara yang tegas seperti biasanya,”Enaknya bau tempe gorengnya.” Haaaaa…. Kami terkejut ketika ia dengan yakin mengatakan bahwa itu adalah aroma tempe goreng. Ibu pemilik rumah yang tadinya menemani kami di teras depan lalu bergegas masuk ke dalam rumah. Tak lama kemudian ia keluar dengan membawa piring kecil berisikan tempe goreng yang diiris tipis memanjang. Ooooh…ternyata memang benar tempe goreng. Tentu nantinya akan dimasak menjadi hidangan pesta tapi karena sudah terlanjur tercium aromanya, ya sudah tempenya sajalah yang dikeluarkan. Dasar Fikaa.
     Perjalanan kami lanjutkan. Kami berhenti untuk sholat di sebuah mesjid di Sidrap. Sejak berangkat dari Makassar anak-anak sudah menyampaikan keinginan mereka untuk makan di Rumah Makan Es Teler 77 di Pare-pare. Padahal di mana pun kupikir sama saja, tapi letaknya di kota Pare-pare adalah di seberang pantai, mungkin inilah yang mengesankan bagi anak-anak. Ternyata kondisi Raihan tidak lebih baik. Ia yang memesan ini dan itu akhirnya hanya memakan sedikit saja karena perutnya masih melilit katanya. Kasihan juga aku melihatnya karena pada dasarnya anak itu sangat doyan makan. Memang makanan yang masuk ke perutnya tidak menjadikan ia gemuk tapi tinggi, berarti tetap saja ada manfaatnya. Nah, kondisinya saat ini di luar kebiasaannya yang sebentar-sebentar makan, sebentar-sebentar makan. Saat berhenti di Es Teler 77 itu kami sempatkan untuk melihat kondisi ayam jago yang kami bawa dari desa Galung. Anak-anak yang meributkan ayam itu karena kuatir kepanasan lah, tidak bisa bernafas lah, kelaparan lah.
Menjelang maghrib kami berhenti di Pangkep untuk sholat. Karena sudah gelap aku tidak berani mengendarai mobil yang sudah kulakukan sejak di Pare-pare, yang jelas ketika jalanan lurus tidak ada pendakian dan penurunan. Mungkin karena faktor usia atau sejenisnya, pandanganku tidak terlalu tajam pada malam hari. Kalau hanya di dalam kota Makassar dan tidak terlalu jauh aku masih berani tapi kalau sudah hitungan luar kota, I give up. Kami tiba di rumah pukul 20.00 kurang. Sebenarnya kami diminta langsung ke Perumahan BTN Wesabbe, di rumah mertua karena saat yang bersamaan ibu mertuaku kembali dari tanah suci. Tapi karena kami, terutama suamiku, sudah kelelahan, kami tidak sanggup lagi. Kami minta diantarkan saja makanan dari Wesabbe (hehehehe…..ini namanya anak dan menantu yang tidak tahu diri).
      Alhamdulillah kami kembali ke rumah. Meskipun keadaan rumah berantakan, apalagi Fadhil juga sehari sebelumnya baru kembali dari Barru, tapi tak apalah, yang penting sudah kembali ke rumah, menghempaskan badan ke atas kasur dan mencium bantal di kamar, sudah terasa sangat nyaman. Suatu perjalanan yang mengesankan terutama karena selama empat hari kami menginap di empat desa yang berbeda. Mudah-mudahan anak-anakku banyak mendapatkan pelajaran dari kunjungan dari desa ke desa kali ini, apalagi melihat kondisi beberapa anak seusia mereka yang tidak seberuntung mereka, semoga membuat mereka semakin bisa mensyukuri nikmat Allah yang tak pernah berkurang, dan senantiasa rela berbagi.

Last but not least

    Kasihan Raihan, setiba di Makassar sampai 3 hari berikutnya ia menderita diare yang membuat berat badannya turun. Semula kami tidak menduga sampai seserius itu. Ketika kami mencoba melakukan flashback terhadap perjalanan kami yang baru lalu, akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa hal itu terjadi karena kelalaian kami. Kondisi Raihan memang tidak terlalu fit karena ia sering pusing setiap perjalanan ke luar kota. Kemudian pada hari kami meninggalkan Villa Bambapuang menuju Buttubatu, wadah Tupperware yang berisi sisa makanan yang sudah basi hanya kami cuci dengan air dan sabun, tanpa dibilas dengan air panas, setelah itu diisi dengan nasi goreng menu sarapan dari villa. Padahal sesuai ilmu yang kami miliki, sisa makanan tersebut pasti mengandung bakteri berbahaya yang harus dimusnahkan dengan perlakuan panas, tidak hanya sekedar air dan sabun. Ternyata anak kami yang harus menderita akibat pikiran praktis orang tuanya. Meskipun Fauzi dan Fika juga memakannya tapi kondisi tubuh mereka saat itu lebih sehat dibandingkan Raihan sehingga tidak memberi efek diare seperti Raihan. Pengalaman pahit yang berharga telah kami dapatkan, semoga di waktu-waktu yang akan datang tidak terjadi lagi.

Tamalanrea, 19 Oktober 2011

Jumat, 27 Mei 2011

MUSLIMAH YANG BERKEPRIBADIAN*


Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahirabbilalamin. Segala puji bagi Allah SWT,Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam tetap terlantun bagi Rasulullah  Muhammad SAW beserta keluarganya yang mulia, sahabat-sahabatnya yang tercinta dan pengikutnya yang setia hingga akhir zaman.
Adik-adik mahasiswi yang dirahmati Allah SWT. Berbahagialah para muslimah karena kita ditakdirkan menjadi perempuan, yang memiliki banyak kelebihan dalam berbagai sisi kehidupannya. Berbahagialah perempuan yang mendirikan shalat dan berpuasa dengan taat dan khusyuk, yang  menutup aurat dan mempunyai rasa malu, yang berwibawa dan mempunyai sikap teguh, yang terpelajar, terdidik, serta selalu menelaah dengan penuh kesadaran dan selalu dituntun oleh pentunjuk, yang memenuhi janji dan memegang amanah, yang jujur dan mempercayai kebenaran. Berbahagialah perempuan yang senantiasa bersabar, bertaubat dan hanya tunduk serta berharap kepada Allah, yang selalu berdzikir, bersyukur dan berdakwah dengan giat dan cekatan, yang meneladani Asiyah, Maryam dan Khadijah, yang mendidik anak-anaknya dan mencetak generasi-generasi sejati, yang memelihara nilai-nilai kesucian dan menjaga keteladanan Nabi-Nya. Berbahagialah perempuan yang merasa terusik terhadap pelanggaran ketentuan yang diagungkan dan dihormati serta menjauhkan diri dari perkara-perkara yang haram (dikutip dari buku Dr. Aidh bin Abdullah Al-Qatni, MA)..

 

*disampaikan sebagai keynote speech pada Konferensi Mahasiswi se Sulselbar, Sabtu, 21 Mei 2011.
**dosen Fakultas Pertanian Unhas


Muslimah yang berpendidikan  
Adik-adik mahasiswi yang dirahmati Allah SWT, muslimah dan ilmu atau pendidikan tak dapat dipisahkan. Tak ada muslimah yang mau tinggal bodoh atau dibodoh-bodohi atau memperbodoh diri sendiri. Menuntut ilmu menjadi suatu kewajiban ketika kita ingin membuat suatu perubahan dalam berbagai aspek kehidupan. Muslimah yang terdidik dan berilmu akan memberi kontribusi yang besar bagi suatu kebangkitan baik dalam lingkup kecil yaitu keluarga dan kerabat maupun dalam lingkup yang lebih besar yaitu umat.
Rasulullah SAW melihat bahwa pendidikan harus dimulai dari dalam diri (nafs) atau mental. Sebab jika pendidikan tidak dimulai dari dalam (mental) maka apapun manifestasi pendidikan tersebut hanyalah manipulatif. Pendidikan adalah proses manusia untuk menjadi sempurna yang diridahi oleh Allah SWT. Kesempurnaan tersebut adalah kesempurnaan yang diridhai oleh Allah SWT bagi hamba-hambaNya serta kesempurnaan yang ditetapkan oleh syariatNya. Bukan kesempurnaan yang digariskan oleh para filsof (Hafidz Abdurrahman, 2005). 
           
Kesuksesan muslimah
            Adik-adik mahasiswi yang dirahmati Allah SWT. Apa sesungguhnya definisi dari “sukses”? Lebih khusus lagi apa makna kesuksesan bagi seorang muslimah? Apakah ia dikatakan sukses jika sudah meraih gelar sarjana, terutama jika dengan predikat “cum laude”. Ataukah jika ia sudah memperoleh pekerjaan dengan gaji di atas rata-rata? Sebagian muslimah mungkin menganggap sukses adalah jika sudah lolos menjadi PNS sesuai cita-citanya sejak kecil. Sebagian lagi mungkin menganggap sukses adalah jika berhasil bergabung dengan perusahaan multinasional atau bahkan perusahaan asing dengan penghasilan yang menggiurkan. Tapi alih-alih bisa menikmati hasil kerjanya, sebagian besar mungkin merasa tersiksa karena harus berangkat kerja pagi-pagi sekali dan kembali ke rumah pada malam hari dalam kondisi kelelahan yang amat sangat. Masih ada banyak lagi definisi sukses yang bisa muncul karena setiap pribadi akan mendefinisikannya sendiri-sendiri.
            Saya pun memiliki definisi sukses sendiri yang telah saya pikirkan masak-masak dan saya yakini bahwa definisi itu buatan saya sendiri tanpa campur tangan orang lain. Sukses bagi saya adalah jika telah dapat memberikan manfaat bagi orang lain, jika telah dapat memberikan kebahagiaan, ketenangan dan kenyamanan bagi orang lain dan jika keberadaan saya diharapkan oleh orang lain yang semuanya saya lakukan atas ridha Allah SWT.
            Dalam sebuah buku yang pernah saya baca, kesuksesan adalah memastikan bahwa tidak satu detik pun yang dilewatkan tanpa meraih ridha Allah SWT, dengan memenuhi semua kewajiban dari Allah SWT dalam semua aspek kehidupan, baik itu dalam ibadah, sebagai istri, ibu, anak, memenuhi kontrak kerja, menutup aurat di wilayah publik, bergaul terpisah dari laki-laki atau mengemban dakwah untuk meninggikan kalimat Allah SWT (Saifullah,. 2008).

Kodrat sebagai perempuan
            Adik-adik mahasiswi yang dirahmati Allah SWT. Saya selalu merasa terusik setiap kali mendengar pendapat bahwa seorang perempuan tak perlulah sekolah terlalu tinggi karena nantinya akan masuk ke dapur dan menjadi ibu rumah tangga. Pada masa sekarang pun kalimat itu masih sering terdengar. Sebenarnya yang membuat saya merasa terusik bukanlah makna tersurat dari kalimat tersebut namun lebih pada makna tersirat. Memangnya apa yang salah dengan profesi ibu rumah tangga. Sampai saat ini saya masih sering merasa “iri” (sengaja saya beri tanda kutip karena iri di sini berkonotasi positif, yaitu iri yang akan memacu kita memperbaiki diri, jadi bukan iri yang berkonotasi negatif yaitu tidak suka melihat capaian orang yang lebih dari kita). Saya merasa iri dengan ibu rumah tangga yang sanggup memberesi semua permasalahan di rumah, sanggup menyiapkan dan menyajikan makanan-makanan yang sehat, bergizi, aman dan halal bagi keluarganya, sanggup mendampingi anak-anaknya mengerjakan pekerjaan rumah mereka, sanggup mendidik anak-anaknya agar berakhlak baik dan bersikap santun kepada semua orang, sanggup mendampingi suaminya dan menjadi tempat curhat bagi suaminya dengan masalah pekerjaannya, tapi masih juga bisa tersenyum ceria setiap saat seakan tidak pernah merasa lelah. Tentulah yang ada dalam benak perempuan-perempuan seperti itu adalah keyakinan dan keihlasan menjalankan kodratnya sebagai perempuan. Kondisi itu yang kadang membuat saya merasa rendah diri jika bertemu dengan perempuan-perempuan hebat seperti itu.
            Kembali pada urusan menuntut ilmu yang tinggi, lalu, apa gunanya jika seorang muslimah nantinya menjadi ibu rumah tangga dan tidak memanfaatkan atau menerapkan ilmu yang sudah diperolehnya dengan susah payah.
Adik-adik mahasiswi yang dirahmati Allah SWT. Profesi ibu rumah tangga biasanya dibedakan dengan wanita karier yang bekerja di luar rumah. Namun pada masa sekarang perbedaan itu pun mulai menipis. Seorang wanita karier tidak harus bekerja di luar rumah, demikian juga seorang ibu rumah tangga dapat pula berkarier di rumah. Hal ini akan lebih memudahkan muslimah untuk memenuhi kodratnya sebagai  perempuan yang harus mengurus dan mendidik anak namun juga dapat membantu suami mencari tambahan penghasilan dari rumah. Di sinilah manfaat ilmu yang diperoleh. Tentunya kita sebagai muslimah akan merasakan suatu kebanggaan jika mampu mendidik anak-anak kita menjadi pribadi yang shalih dan shalihah,  pandai, santun dan senatiasa berpegang pada Al Qur’an dan As-Sunnah. Muslimah harus berilmu, harus berpendidikan, harus pandai, agar bisa menularkan ilmunya kepada orang lain.     
Adik-adik mahasiswi yang dirahmati Allah SWT. Ada sebuah tulisan yang cukup menyentuh perasaan saya yang  bercerita tentang ungkapan hati seorang anak kecil terhadap ibunya. Ia mengatakan bahwa Umiku adalah teladan pertamaku, karena Umiku, kucinta ilmu, karena Umiku, kuingin berdakwah. Umiku adalah teladan pertamaku, saat aku belum mampu menjangkau seperti apa keteladanan yang diajarkan Rasulullah. Aku bersyukur, Umiku selalu ada di dekatku, menentramkanku, membelai kepalaku, membuatku tertidur begitu nyenyak hingga sel-sel kelabu dalam otakku pun bekerja dengan sangat baik. Saling mengait membentuk jaringan yang kelak akan menyempurnakan sistem kerja komputer otakku. Umiku yang sabar bukan berarti ia keluaran sekolah rendahan. Tidak. Ternyata ia seorang insinyur, lulusanperguruan tinggi terkemuka di kota ini. Predikat kelulusannya “sangat memuaskan”. Berarti ia adalah seoramg wanita yang cerdas. Untuk itulah ia ingin mengoptimalkan kecerdasannya untuk merawatku, putri kesayangannya. Pernah kudengar ia mengatakan “setidaknya kuoptimalkan pikiran, waktu dan tenagaku untuk menyempurnakan pengasuhan di periode emas pertumbuhannya. Soal tawaran berkarir, nanti saja kupikirkan lagi sampai pengasuhan putriku telah kusempurnakan. Itupun bisa kuterima tawaran itu atau tidak tergantung waktu luangku”. Luar biasa, bukan. Ia mengatakan berkarir hanyalah bila ada waktu luang saja. Sementara di sisi lain, banyak para ibu yang justru mengutamakan karirnya dan mengisi waktu luangnya dengan mengasuh anak (Lathifah Musa, 2005). Semoga kita dapat memetik manfaat dari kisah tersebut.
Adik-adik mahasiswi yang dirahmati Allah SWT, ilmu yang kita peroleh di setiap jenjang pendidikan akan menjadi bermanfaat manakala kita bisa menerapkannya untuk tujuan yang mulia. Kita tak boleh hanya duduk manis dan menerima keadaan dengan menganggap toh kita bukan penentu kebijakan. Dimulai dari lingkup kecil di dalam keluarga, di dalam kelompok kajian, kelompok muslimah sampai komunitas besar seperti yang ada pada hari ini, kita akan bisa membuat perubahan ke arah yang lebih baik demi umat.
Demikian penyampaian saya. Terima kasih atas perhatian adik-adik mahasiswa, jika ada kesalahan atau kekurangan dalam penyampaian ini saya mohon maaf karena segala kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT.

Pustaka Acuan:
1.    Dr. Aidh bin Abdullah Al-Qarni, MA, 2004. Tips Menjadi Wanita Paling Bahagia di Dunia, Maghfirah Pustaka, Jakarta.
2.    Hafidz Abdurrahman, 2005. Membangun Kepribadian Pendidik Umat, Wadi Press, Jakarta.
3.    Lathifah Musa, 2005. Namaku Jannah, Pustaka Ar-Raudhoh, Yogyakarta.
4.    Saifullah (editor), 2008. Islam & Wanita; dari rok mini hingga isu poligami, Pustaka Thariqul Izzah, Bogor.