Aku sangat mensyukuri keadaanku saat itu. Melanjutkan
studi ke Jerman di mana suami telah lebih dahulu di sana, berada di
laboratorium yang sama dengan suami, dibimbing oleh supervisor yang sama. Sungguh beruntung aku mendapatkan supervisor yang ramah, penuh perhatian
dan berkualifikasi sebagai penulis berbagai buku ilmiah. Bahkan sampai anak
pertama kami lahir pun supervisor
kami sempat memberikan saran yang cukup bijaksana agar kami dapat mengatur
waktu dengan baik antara studi dan keluarga.
“Anda berdua tidak perlu kawatir, urusan menjaga anak
bisa diatur dengan baik. Misalnya, Frau
Mahendradatta kerja di laboratorium dari pagi sampai siang, kemudian siang
sampai malam gantian Herr Tawali,
jadi anak kalian tetap terurus” demikian saran beliau.
Semua itu tidaklah cukup bagiku untuk menjalani
hari-hariku selanjutnya. Aku mulai merasa depresi terutama setelah anak kami
lahir. Belajar secara otodidak mengasuh anak di negeri orang bukanlah hal
ringan, apalagi mengurus rumah sambil bekerja di laboratorium. Mungkin saat itu
aku terkena baby blue syndrome, yaitu
suatu keadaan di mana seorang ibu mengalami depresi pasca melahirkan.
Penelitianku saat itu baru memasuki tahap awal. Aku tak
bisa berkonsentrasi penuh untuk bekerja di laboratorium karena pikiranku terbagi
antara studi dan anak. Aku bukanlah superwoman.
Kondisi kejiwaanku mungkin sedang labil. Aku jadi sering marah pada bayiku.
Kasihan sekali dia. (Sekarang baru aku
sadar bahwa kondisi jiwa dan pikiran seorang ibu sangat mempengaruhi
perkembangan anaknya. Sehingga apapun yang dilakukan oleh anak pertama kami
sepanjang pertumbuhannya itu pasti akibat transfer energy negative yang
kulakukan ketika ia masih bayi.)
Aku harus
membandingkan beberapa metode analisis histamin untuk nantinya memilih metode
yang paling efektif untuk diterapkan pada berbagai bahan pangan. Apa yang harus
kulakukan jika dalam membandingkan saja aku sudah menemui kendala besar. Tak
ada hasil yang komparabel, sehingga tentunya aku tidak bisa mengambil
kesimpulan awal untuk memutuskan metode mana yang akan kupakai selanjutnya.
Siang itu aku sangat depresi. Setiba di rumah sepulang dari institut, tangisku
meledak seketika. Suamiku cemas melihatku. Semula aku sulit berkata-kata.
Memang sejak kecil aku termasuk sulit mengungkapkan masalah pada orang lain
sedekat apapun hubungannya denganku. Suamiku dengan sabar membujukkan untuk
bicara. Akhirnya kukisahkan semua keresahanku tanpa titik koma. Helaan nafas
baru kulakukan ketika keluhan sudah tumpah.
“Itu hal yang wajar. Setiap penelitian bisa berhasil bisa
pula gagal. Tapi yang kamu lakukan sebenarnya sudah kelihatan hasil awalnya.
Memang tidak bisa langsung jadi.” Demikian suamiku berusaha menenangkanku.
“Tapi ini baru langkah awal, sudah seperti ini. Kalau kejadian ini berulang terus, gagal lagi, gagal
lagi, kita di negeri orang terbatas beasiswa…..” aku tak kuasa menyambung
kata-kataku yang disertai isak tangis.
“Coba cari prosedur lain yang mungkin bisa diterapkan.
Minggu lalu kamu punya banyak alternatif metode analisis. Lagipula kamu belum
bicara dengan Herr Schwedt kan? Siapa
tahu beliau punya saran untuk kasus seperti ini”
“Saya tidak mau ketemu dia dulu….. Nanti dia pikir
seperti anak kecil saja sedikit punya masalah lapor, sedikit lapor lagi…..”
“Iya, tapi kamu kan belum pernah punya masalah seperti
ini, artinya beliau kan belum pernah tahu keluhan kamu. Selama ini beliau puas
dengan hasil kerjamu.” Aku belum luluh.
“Rasanya saya menyerah saja. Percuma saya kerja keras
mencari gelar doktor sementara anak tidak terurus. Biar Bapak sajalah yang
lanjut, toh tinggal selangkah lagi.”
“Apaa?? Kamu
mau putuskan begitu saja. Kenapa bisa punya pikiran seperti itu?”
“Saya tidak sanggup. Bagaimana mungkin saya bisa kerja
dengan tenang di laboratorium sementara anak kita masih sangat memerlukan perhatian
ibunya, sebisa mungkin 24 jam sehari. Apa yang dikatakan orang-orang di
Indonesia, masa saya lebih pentingkan studi dibandingkan anak. Apalagi kemarin
dokter bilang pertambahan berat anak kita di bawah rata-rata normal.”
“Apa kamu lupa bagaimana beratnya perjuangan kamu untuk
bisa dapatkan beasiswa ini, untuk bisa menyusul saya ke Jerman. Apa kamu juga
mau menghancurkan harapan orangtuamu yang ingin sekali melihat keberhasilanmu
sebagai doktor.“
“Tidak apa-apa. Saya di rumah saja asuh anak kita. Bapak
saja yang lanjut sampai doktor.”
“Saya tidak ijinkan kamu berhenti begitu saja! Saya sudah
sangat siap dengan keadaan seperti ini. Insya Allah tidak akan lama, semua bisa
teratasi. Kita akan atasi masalah anak bersama-sama. Kenapa kamu tidak
percaya?”
“Saya percaya tapi sebenarnya saya tidak kuat lagi.” Aku
mulai melunak.
“Istighfar,
Meta. Tidak ada masalah yang tidak
teratasi. Kita sama-sama mohon
bantuan Allah. Mudah-mudahan kita diberi kemampuan untuk mengatasinya bersama.
Kamu harus kuat. Biarkan orangtua kita bangga kepada kita. Biarkan anak kita
bangga karena bisa mendampingi orangtuanya hingga jadi doktor di negeri orang.
Sekarang kamu pergi sholat dzuhur dulu.” Aku mengakhiri sesi debat panjang
dengan ber-istighfar selanjutnya
pergi ke kamar mandi untuk berwudhu.
Aku bersimpuh di atas sajadah dengan derai air mata.
Setelah itu semua terasa lapang, beban mulai berkurang. Meski hari-hari
selanjutnya tidak serta merta aku bebas dari perasaan depresi, tapi
Alhamdulillah aku bisa mengatasinya dengan baik.
Aku sudah menyandang gelar doktor sekarang, tepatnya
sejak 12 tahun yang lalu. Allah Maha Pemberi Segala Kenikmatan. Puji syukur
kupanjatkan ke hadiratNya, yang telah memberiku pendamping hidup seperti
suamiku yang selalu bisa mengajakku berjalan berdampingan dalam setiap langkah
kehidupan.
(diambil dari buku "Ketika Rasa Syukur Tak Pernah Habis Terucap", 2009, Penerbit Grafidia)
0 komentar:
Posting Komentar